Episode Segelas Wedang Jahe

Hujan masih meninggalkan bau basah di seluruh sudut rumah. Malam ini begitu dingin kawan, dan aku masih saja bersetia dengan kaset serta recorder tua, mentranskrip tiap kata narasumber hasil reportase malam kemarin. Ingin ku dengar suara jangkrik.

”Tapi ini kota kawan” sanggahmu, ”Bukan desa, di mana kamu berumah di tepian kali dan di kelilingi sawah, di mana jangkrik dan kodok bisa bebas melantunkan tembang malam. Yang ada di sini hanyalah tikus got yang sedang mencari sisa-sisa makanan di bungkusan plastik sampah-sampah yang lupa kau buang tadi pagi.”  Aku terdiam, tubuhku serasa tak lagi memiliki sendi-sendi penopang.

”Kau masuk angin kawan, gara-gara kehujanan tadi siang.”

Ah, kau ini selalu saja berkomentar. Dan musikpun terus mengalun dari radio kos cowok sebelah rumah. ”…oh bunda ada dan tiada dirimu kau selalu ada di dalam hatiku…”

Kurasakan ada sesuatu yang terhilang, ada bagian yang terlepas dari hidupku. Mak, aku merindukanmu. Aku rindu dekapan dan pelukanmu. Aku rindu dongengmu tentang Jaka Tarub yang mencuri selendang Damarwulan, tentang Kala yang selalu memburu Ratih, tentang Ken Arok dan Ken Dedes. Aku juga ingin mendengar suara kodok dan jangkrik yang berdendang tiap malam di tepian kali, disinari cahaya bintang dan ribuan kunang-kunang.

”Sudahlah, tidak usah menjadi begitu melankolis, ini aku buatkan segelas wedang jahe, siapa tahu bisa membuat perutmu sedikit lebih baik”

Kenapa harus wedang jahe sih? Aku kan tidak suka. Pedas, protesku dalam hati. Namun sebelum kata itu terlontar kulirik kawanku yang tengah bersiap untuk tidur. Ah dia sudah begitu baik, kenapa aku hampir saja mengucapkan kata-kata seperti itu.

Ku tatap dalam-dalam gelas mungil itu, siapa tahu tatapanku bisa merubahnya dari wedang jahe menjadi segelas milo hangat kesukaanku, namun tetap saja tidak berpengaruh. Gelas itu tetap berisi wedang jahe. Kuambil sesendok kecil, kutiup, dan bau harum memenuhi hidungku, kuhirup sedikit, fuh pedas, tapi….. hmm ternyata lumayan juga.

Kulirik kawanku, rupanya dia tengah berdoa. Tuhan apakah dia berdoa untukku? Siapa tahu. Setelah kutiup-tiup, ku teguk wedang jahe itu, hmm…nikmat. Kawanku telah selesai berdoa dan dia sudah merebahkan diri, menarik selimut tingi-tinggi serta memejamkan mata.

TengTengTengTengTengTengTengTengTengTengTeng. Tepat di bunyi lonceng ke sebelas ku minum regukan terakhir wedang jahe itu. Trimakasih Tuhan, malam ini aku tahu tentang satu hal bahwa kasih sahabat lebih nikmat dari apapun, mampu mengubah benci jadi cinta.

_Lagupun masih terus berputar dari kos sebelah_

Mak, malam ini anakmu telah belajar dua hal lagi dalam hidupnya. Tentang nilai persahabatan yang ternyata lebih indah dari dongengmu serta tembang malam jangkrik dan kodok. Terlebih lagi malam ini anakmu telah mengetahui betapa enaknya wedang jahe itu. Mak anakmu masih tetap saja merindukanmu.

KarMal E26, 23.45 WIB

Medio 2006

About Sash

mahasiswa tingkat akhir | reporter | juru ketik | juru potret amatir | pemimpi | penyuka milo hangat, bintang, senja, kunang-kunang View all posts by Sash

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: