Pelangi di Batas Hari

Rabu sore dan hitam sudah menggelayut di sebelah Barat. Jadi pulang nggak ya, pertanyaan itu sekelebat melintas di benak saya. Kalo jadi pulang saya harus menempuh perjalanan selama 150 menit naik motor (itu kalo cepet), nah masalahnya dia naik motornya pelan, jadi kira-kira bisa memakan waktu 180 menit bahkan 200 menit. Itu belum seberapa, di tambah lagi jalanan yang naik turun dan sepi, belum lagi kalo turun hujan. Pufhh, membayangkan saja saya sudah capek.

Tapi bagaimanapun juga saya harus pulang. Besok ibadah Pentakosta, dan saya harus ibadah bareng keluarga di rumah. Kalo saya absen pulang ibu pasti marah, padahal walaupun di Jogja saya juga tetap ke gereja, tapi ibu tak mau tahu alasannya. Jadi, apapun alasannya saya harus pulang.

Sekitar jam 2, dia sudah sampai di depan kos, saya sendiri belum selesai berkemas. Dia orang yang sangat menghargai waktu, jadi kalo mau pergi bareng dia harus ontime, dan gara-gara hal ini saya sering dijuluki “si lelet”. Selesai berkemas, time to go home,,

“Waduh kok sebelah barat udah mendung ya,,piye nih kalo hujan?” tanya nya
“La meh piye? Aku udah bawa raincoat kok, mas juga bawa toh?’
“Ya bawa, tapi sepatuku ki lho” (dia selalu pake sepatu buat naek gunung, jadi kalo keujanan pasti ngomel-ngomel)
“Ya pake sendal ajah, aku mau ganti celana pendek aja lah”
“Nggak dingin? Ntar nek keujanan piye?”
“La justru itu, jeansku baru ja tak cuci je, eman-eman nek kehujanan, kalo pake celana pendek kan nggak masalah. Nggak dingin kok, aku kan ntar pake mantel celana”
“Yowis sana, cepet lho, ojo kesuwen, keburu hujan”

Setelah sedikit berdebat kamipun memulai perjalanan. Tak perlu menunggu lama hujan mulai turun, awalnya gerimis kecil, tapi makin lama makin deras. Di pinggiran ringroad utara kami berhenti dan memakai mantel. Duh perjalanan ini pasti akan memakan waktu yang lama. Apalagi dia orang yang paling anti hujan, jadi kalo hujan-hujan bonceng dia, perjalanan jadi tambah menyebalkan,,,

Perjalanan sesungguhnya dimulai. Di terminal Jombor kami belok kiri, ambil jalan pintas, biar bisa lebih cepet. Berharap hujan menjadi reda, ternyata yang terjadi malah sebaliknya, hujan semakin deras. Bahkan di daerah Seyegan hujannya di tambah angin kencang. Air bercipratan kemana-mana dan menggenang di sepanjang jalan. Angin bertiup semakin kencang, petir dan kilat menyambar-nyambar.

“Mas kok hujannya tambah gede banget ya?”
“La piye? Meh berhenti po jalan terus? Kamu takut nggak? Nek takut kita berhenti dulu sek”
“Haduh kalo berhenti trus kita kapan nyampe rumahnya? Ini udah sore banget je, jalan terus aja lah”

Brrr,,belum setengah jam perjalanan celanaku sudah mulai basah. Maklum, raincoatnya cuma lungsuran, jadi sudah tipis dan air gampang merembes. Air masih saja menitik dengan dengan deras dari langit, semuanya berubah menjadi kelabu. Jalanan kelabu, rumah-rumah kelabu, langit kelabu, suasana kelabu. Namun aku tidak mau hatiku menjadi kelabu, dan tanpa sadar mulutku mulai melantunkan sebuah lagu.

Seperti pelangi sehabis hujan
Itulah janji setiaMu Tuhan
Di balik dukaku telah menanti
Harta yang tak ternilai dan abadi

Tanpa kusadari dia juga ikut berdendang. Entah kenapa kali ini dia tidak ngomel sepanjang perlananan seperti biasanya. Akupun terus bernyanyi, sambung menyambung dari satu lagu ke lagu lainnya. Tapi lebih tepatnya bukan bernyanyi, melainkan berteriak-teriak, melawan suara hujan dan petir yang menggelegar.

Daerah demi daerah terlewati, Seyegan, Kalibawang, Borobudur, Salaman, Silentho, dan hujan tetap saja turun. Aku dan dia bernyanyi semakin semangat.

“Walau hujan kita harus bersyukur dek, daripada ngomel-ngomel. Paling Tuhan lagi ngajak gojek, Tuhan gek ngerjain kita ki. Yo nyanyi lagi aja, memuji Tuhan sekalian biar nggak kedinginan”

Upz,,tumben dia berpikiran seperti itu, ya baguslah. Sampai di daerah Sapuran rintik hujan mulai mengecil, tidak sebesar tadi. Samapi Kertek hujan sudah reda, hanya gerimis kecil. Arah Timur langit masih terlihat pekat, namun pemandangan di sebelah Barat terlihat kontras. Di antara awan gelap terlihat celah, dan sinar matahari menerobos masuk di natara lubang besar itu.

“Mas kok pemandangannya ngeri ya”
“Iya e, tapi keren, kalo kaya gini seharusnya ada pelangi”
“Iya, wah senja tu memang selalu menakjubkan”

Semakin ke barat pemandangan semakin bertolak belakang. Hujan sudah reda. Langit berwarna jingga keemasan. Cahaya senja menimpa aspal yang masih basah, menimpa atap-atap rumah, rerumputan dan juga pepohonan di sepanjang jalan. Semuanya berwarna jingga keemasan dan menyilaukan. Dan tanpa sengaja aku menoleh kebelakang

“Mas berhenti, ada pelangi”

Sebuah mahakarya Sang Pencipta tertoreh di langit senja. Dua pelangi dengan warna dan lengkung sempurna. Kamipun hanya terdiam. Menatap keindahan tanpa bersuara. Kelabu menghilang, dingin menghilang, dan semua duka menghilang. Hanya kekaguman yang melanda, serta ucapan syukur kepada Pencipta. Ini adalah pelangi terindah yang pernah kulihat.


Dan aku tetap tak mengerti
Ini senja berhias pelangi atau pelangi di ujung senja
Mentari pun merangkak pelan menjauhi senja
Semua kembali menjadi pekat
Namun yang pasti selalu ada pelangi dibalik setiap duka

About Sash

mahasiswa tingkat akhir | reporter | juru ketik | juru potret amatir | pemimpi | penyuka milo hangat, bintang, senja, kunang-kunang View all posts by Sash

One response to “Pelangi di Batas Hari

  • yustha tt

    fotonya mana dik………
    ditambahkan ya…….

    TUHAN memang maestro yang luar biasa….

    ya besok mbak,, tak ngambil di facebook temenku dulu
    soalna aku pas itu gak bawa kamera hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: