Sepenggal Kisah Kepergian

: Daniel Ari Wardhana

“Tuhan kami tahu bahwa ada satu rencana indah dibalik ini semua, kami percaya bahwa semua ini yang terbaik, tapi kami menyayanginya Tuhan, dan kami merasa sangat kehilangan Dani. Tuhan ajari kami untuk bisa menerima semua ini dan ajari kami untuk menjadi lebih dewasa melalui kejadian ini”


Doa itulah yang terucap dari mulut seorang ayah di pusara putranya seusai prosesi pemakaman. Semua yang masih tinggal di kompleks pemakaman dan mendengar sepenggal doa itu pun tak kuasa menahan air mata. Suasana duka yang mendalam begitu terasa. Seorang Daniel Ari Wardhana telah di panggil pulang ke pangkuan Bapa.

Daniel adalah salah satu mahasiswa jurusan matematika yang tercerdas di angkatannya, pemain gitar yang hebat, dan sosok anak yang mandiri. Saya sendiri mengenalnya sejak pertengahan tahun 2005 saat mengisi acara dalam pendampingan mahasiswa baru FMIPA UNY. Kemudian kami sering saling sapa jika kebetulan bertemu di lorong-lorong kampus maupun di acara persekutuan. Tahun 2006 kami sama-sama menjadi panitia Inagurasi PMK, saat itulah saya mengenalnya lebih jauh. Saya tertawa ketika tahu dia pengagum berat Sheila on 7, saya juga sempat mengucapkan selamat ketika di semester awal dia mendapatkan IP 4 bulat, dan saya juga masih ingat betul ketika dia menjelaskan tentang detil games yang akan dimainkan pada saat outbond. Namun setelah Inagurasi selesai saya sudah jarang bertemu ataupun mendengar kabar tentangnya. Hingga akhirnya Jumat siang tanggal 24 Juli 2009 datanglah berita duka itu.

Siang itu saat Daniel akan pergi ke kampus untuk bimbingan skripsi. Sebelum pergi dia menyempatkan diri untuk berdoa. Mungkin sudah mendapatkan firasat bahwa dia akan pergi untuk selamanya, doanya kali itu berlangsung lama dan tentu saja hal itu membuat heran ibunya. Setelah berpamitan diapun beranjak pergi. Dalam perjalanan sebuah truk menyerempet motornya, membuatnya terjatuh, dan truk itu yang kemudian menyeret serta melindas kepalanya. Saat itu pula dia langsung meninggal di lokasi kejadian, tanpa rasa sakit yang berkepanjangan. Ayahnya yang berada tepat di belakang motor Daniel melihat secara langsung kejadian tersebut.

Saya tidak mampu membayangkan bagaimana perasaan sang Ayah melihat putranya terseret truk, kemudian jatuh dan terlindas. Bagaimana perasaan beliau ketika mengangkat tubuh putranya yang sebagian kepalanya sudah hancur dengan tangannya sendiri. Darah mengalir dari tubuh Daniel dan membasahi pakaian Sang Ayah. Jika semua dapat dihentikan, saya yakin Ayahnya lebih memilih untuk meninggal tertabrak truk daripada harus menyaksikan kejadian itu menimpa putra pertamanya. Kejadian saat itu pasti sangat memilukan bagi siapa saja yang melihatnya.

Namun satu hal yang benar-benar membuat saya tak kuasa menahan air mata adalah ketika Sang Ayah dengan tegar menceritakan tentang kejadian yang menimpa putranya, kemudian beliau tidak marah kepada Tuhan karena merasa Tuhan tidak adil, melainkan beliau tetap percaya bahwa rencana Tuhan baik adanya. Dalam segala keadaan beliau tetap mengucap syukur kepada Tuhan. Beliau tidak memungkiri kenyataan bahwa beliau merasa sangat kehilangan, namun bagaimanapun juga hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Meski semua kejadian itu belum bisa beliau terima, namun beliau memilih untuk berserah sepenuh kepada Tuhan.

Kadang tanpa saya sadari saat banyak hal buruk menimpa saya, saya marah-marah kepada Tuhan bahkan terkadang berlari menjauh serta meninggalkanNya. Saya merasa Tuhan tidak adil dalam memperlakukan saya. Namun melalui kejadian ini saya disadarkan tentang berbagai hal. Keadilan itu bukan menurut pendapat saya, melainkan itu otoritas Tuhan. Apapun yang Tuhan beri dalam kehidupan saya adalah baik dan adil adanya. Tuhan tidak pernah membiarkan saya mengatasi masa-masa sulit sendiri. Yang Tuhan inginkan dari saya hanyalah penyerahan diri sepenuh untuk tunduk terhadap otoritasNya dan bersyukur dalam setiap keadaan.

“Jika kami menang dan bahagia kami akan memuji namaMu, namun jika kami kalah serta berduka pun kami akan tetap memuji namaMu” _Facing the Giants


Dani, saya tahu bahwa kepergianmu tidaklah sia-sia. Saya yakin dan sepakat bahwa rencana Tuhan baik adanya. Kepergianmu telah mengajarkan sesuatu kepada kami yang engkau tinggalkan. Kedewasaan dalam pengenalan akan Tuhan, dan penyerahan total kepada kehendak Tuhan, karena semua yang Tuhan berikan adalah baik adanya. Selamat jalan sahabatku, aku percaya bahwa Tuhan telah persiapkan tempat indah untukmu.

Gambiran, 27 Juni 2009

About Sash

mahasiswa tingkat akhir | reporter | juru ketik | juru potret amatir | pemimpi | penyuka milo hangat, bintang, senja, kunang-kunang View all posts by Sash

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: