Jelajah Wisata 09-08-09

pagi hari di depan rumahnya

pagi hari di depan rumahnya

Akhirnya saya jalan-jalan lagi. Kali ini jalan-jalan dalam artian sebenarnya, yaitu jalan kaki sepanjang kurang lebih 10 km. Melintasi semak belukar, mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, hehehe. Yupz tepat hari Minggu, 9 Agustus 2009 saya di suruh meliput acara Jelajah Wisata 2009 “The Spirit of Merapi” yang diadakan sama Disbudpar Sleman. Rencana awal saya akan berangkat dengan salah satu rekan saya (sebut saja namanya Kang Klowor), namun secara mendadak dia membatalkan dengan alasan “wah dulurku sek seko Belanda meh teko je,” yasudah akhirnya saya terpaksa berangkat dengan dia yang tak boleh disebut namanya (padahal niat awalnya emang pengen sama dia hehehe).

Berangkat dari Jogja pagi-pagi, menembus dingginnya Jakal, dan sempat ceklak-ceklik beberapa kali saat melihat sunrise yang keren.  Sebenarnya disebut sunrise juga gak tepat siy,, soalnya mataharinya udah tinggi, tapi ya gak papa lah, tetep di sebut sunrise ajah (maksa mode on)

Puas ceklak-ceklik langsung melanjutkan perjalanan. Sampai di tempat retribusi dia bilang “dek kita jadi orang baik ya, jadi bayar retribusi”.

“Berapa pak?”

“Empat ribu lima ratus”

“Sekalian nanya pak, rombongan Dinas Pariwisata Sleman sudah masuk belum ya?”

“Sudah dari tadi, lho mbaknya juga ikut rombongan ya?”
”Iya pak, kami dari media” (kali ini dia yang jawab)

“Ow ya sudah kalo gitu nggak udah bayar, monggo lanjut saja keburu acaranya mulai”

Yuhu,,,Kaliurang I’m coming. Sampai di Telogo Putri acara udah mau mulai. Cari orang Disbudpar yang bernama Pak Wasito gak ketemu-ketemu, ya sudahlah lanjut saja. Berjalan mengikuti arus. Suasana benar-benar padat dan ramai. Lebih dari 1000 orang yang mengikuti acara (katanya). Akhirnya kita mulai memasuki wilayah hutan Kaliurang. Di pos pertama orang-orang pada di kasih soal-soal buat di isi. Saya sama dia cuma senyam-senyum aja, “Kita liputan kok pak”, “Oh, ya monggo kalo begitu, silahkan nikmati saja.” Di belakang saya tampak anak-anak Mapala entah (lupa namanya) sibuk foto-foto, saya juga ndak mau ketinggalan dunkz. Nih hasil jepretan dia.

saya lagi motret pake SLR (tanpa D lho), dan dia motret saya pake kamera kantor hehe

saya lagi motret pake SLR (tanpa D lho), dan dia motret saya pake kamera kantor hehe

Selesai ambil beberapa jepretan, kita lanjut lagi. Rute kali ini lumayan jauh,  Tlogoputri – Gandok – Ledoklutung – Jeblogan – Kali Ploso – Kinahrejo/ Rumah Mbah Maridjan – Bunker Kaliadem – Ngrangkah – Ngandong – Ledoklutung Kidul – Gandok – Tlogo Putri (finish). Bagi saya yang lama gak pernah tracking tentu saja perjalanan ini sangat menyiksa dan melelahkan. Sedangkan dia santai saja. Meski pagi belum sarapan, dan jalannya lumayan cepet, nafasnya tetep terjaga dan tidak ngos-ngosan seperti saya. Maklum dia kan anak divisi GH  (Gunung Hutan) pas jaman-jaman aktif di MAPALA sekarang juga masih sering ndaki.

Tlogo Putri terlewati, Ledhokan terlewati, akhirnya nyampe juga di Pos 2. Dari sini kita bisa lihat puncak merapi, namun sayangnya cuaca berawan dan berkabut, jadi puncak merapinya tertutup awan. Yah,,,,hasrat narsisku ingin berfoto ria dengan background merapi pupus sudah. Jalanan mulai banyak bonusnya (datar dan menurun). Sempet kepleset juga beberapa kali. akhirnya kita masuki wilayah Kali Ploso atau yang juga dikenal sebagai watu Kemloso. Daerah ini merupakan aliran sungai yang dasarnya berupa batu. Batu tersebut terbentuk karena selama enam bulan sungai dialiri oleh lava pijar yang panas. Setelah lava itu membeku terbentuklah baru tersebut. Di sebut watu kemloso karena batunya memanjang mengikuti aliran sungai dan tidak putus.

Setelah menyebrang Kali Ploso (yang nggak ada airnya) jalanan mulai mendaki lagi, naik,,naik,,naik,,duh pegelnya. Tapi nggak berani protes. Soalnya tanggal 16-17 besok berencana ikut mendaki ke Merbabu, kalo saya nyeletuk capek dia pasti bilang gini “Piye meh munggah Merbabu, wong mlaku ngene ae wis kesel.” yasudah, terpaksa pasang tampang bahagia dan tetap melangkah dengan gontai perkasa.

Sejak awal ikut acara ini tujuan saya adalah pengen tahu yang namanya Kaliadem. Mosok kebangetan, di Jogja udah 5 tahun belum pernah menginjakkan kaki di Kaliadem. yuhu,,,akhirnya. Jepret sana, jepret sini, sekalian minta di jepret hehehe.

simbah-simbah penjual edelweis

simbah-simbah penjual edelweis

fotografer yang narsis

fotografer yang narsis

Puas jeprat-jepret, puas di jepret juga. Saatnya kembali pulang, duh membayangkan rutenya saja saya sudah capek. Tapi harus bisa!!! Wong di depan saya saja ada simbah-simbah usia 80-an yang ikut acarana ini dan masih kuat berjalan (dengan bantuan tongkat tentunya). Pokoknya salut buat simbah itu dah. berusaha ngambil gambarnya tapi nggak dapet, dapetnya pas simbah itu lagi kepleset di Kali Ploso, jadi nggak saya upload.

Ternyata rute pulangnya tambah ekstrim. Jalanan sempit en licin. naik turun gak jelas, berhubung kaki udah pegel jadi sempet kepleset-kepleset dikit. Duh akhinya nyampe Tlogo Putri lagi,,,yuhuu,,, Nyari Pak Wasito nggak ketemu lagi, yasudah saya pulang saja.

“Dek katanya kamu liputan”

“Iyah”

“Lha terus? kok wit mau kowe ra ngopo-ngopo, mung poto-poto, ra wawancara, nulis-nulis, po piye ngono”

“Hehehe”

About Sash

mahasiswa tingkat akhir | reporter | juru ketik | juru potret amatir | pemimpi | penyuka milo hangat, bintang, senja, kunang-kunang View all posts by Sash

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: