Yogyakarta, Wisata Tanpa Akhir

Gumregah Merapi anyundhul langit
Padhang mbulan ing candhi Prambanan
Keraton pusering buddhi
Candik ayu ing segoro kidul

Itulah sepenggal lirik lagu berjudul “Jogja Cinta Tanpa Akhir” yang dinyanyikan oleh Katon Bagaskara. Sebuah lagu yang menceritakan tentang eksotisme Yogyakarta sehingga membuat orang terbuai dalam nuansa romantisme kota ini. Membicarakan Yogyakarta memang tidak akan pernah ada habisnya. Salah satu daya tarik yang menjadi ciri tersendiri dari kota berjuluk kota perjuangan ini adalah obyek wisata yang beragam. Mulai dari wisata alam, wisata budaya, wisata religius, wisata belanja, hingga wisata pendidikan, semuanya ada di Yogyakarta. Untuk lebih mengenalkan obyek wisata yang ada di Yogyakarta, Dinas Pariwisata dan Budaya (Disbudpar) Provinsi Yogyakarta menggelar acara yang bertajuk Press Tour 2009 pada 11-12 Agustus 2009.

Acara ini diikuti oleh sejumlah wartawan dari berbagai media (cetak, online, maupun televisi), para staf Disbudpar kabupaten dan kota di DIY, serta pelaku industri pariwisata. Para peserta tidak hanya berasal dari DIY saja, beberapa di antaranya berasal luar kota, seperti dari Jakarta, Sumedang, serta Kudus. Tak ketinggalan kru http://www.wisatamelayu.com pun turut diundang untuk mengikuti kegiatan ini. Press tour hari pertama diawali dengan daftar ulang di Hotel Grage, tempat di mana para peserta luar kota menginap dan dilanjutkan dengan makan pagi. Sekitar pukur 09.00 WIB, rombongan yang terbagi dalam dua bus mulai bergerak meninggalkan hotel untuk memulai perjalanan.

Tempat pertama yang dikunjungi adalah wisata religius atau wisata alternatif Sendangsono. Obyek wisata ini terletak di Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo. Tempat ini merupakan tempat ziarah umat Katolik dan seringkali disebut sebagai Lourdes-nya Indonesia. Tempat ini selesai dibangun oleh Romo Van Lith pada 1929, kemudian pada tahun 1974 pembangunan dilanjutkan kembali oleh Romo YB Mangunwijaya. Kapel-kapel dan bangunan yang ada di tempat ini memiliki arsitektur yang unik sesuai dengan ciri khas arsitektur ala Romo Mangun.

Goa Maria Sendangsono

Goa Maria Sendangsono

Konsep pembangunan kompleks Sendangsono sendiri bernuansa Jawa dan ramah lingkungan. Bahan-bahan yang digunakan diambil dari alam sekitar, bahkan para pekerjanya juga warga yang tinggal di sekitar Sendangsono. Oleh karena itu kompleks bangunan Sendangsono pernah mendapat penghargaan Aga Khan Awards dari Ikatan Arsitek Indonesia pada tahun 1991, untuk kategori kelompok bangunan khusus. Hingga saat ini, Sendangsono masih terus mengalami pembangunan dan pembenahan lokasi. Namun, ada kendala yang menjadikan obyek wisata ini kurang dapat berkembang secara maksimal, yaitu infrastruktur jalan serta areal parkir yang belum memadai.

Belum puas kami berkeliling, panitia sudah meminta kami untuk bergegas karena perjalanan akan segera dilanjutkan menuju obyek wisata berikutnya. Bus kembali menyusuri jalan ke arah Kota Yogyakarta, karena tujuan kami selanjutnya adalah Desa Wisata Sidoakur yang terletak di Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman. Desa Wisata Sidoakur baru saja diresmikan oleh Bupati Sleman pada 21 Maret 2009 lalu. Warga desa wisata yang menawarkan potensi lingkungan ini aktif berkegiatan dalam bidang pengolahan sampah. Misalnya pengolahan sampah mandiri, di mana Desa Wisata Sidoakur telah mampu melakukan pengolahan limbah sampah, pemilihan sampah, dan pembuatan kompos. Selain itu, desa wisata ini juga melakukan pengolahan limbah manusia menjadi biogas. Oleh karena itu, Desa Wisata Sidoakur disebut sebagai desa wisata lingkungan kedua setelah Kampung Wisata Sukunan.

Selain menawarkan potensi wisata lingkungan, desa ini juga menawarkan potensi wisata budaya. Masyarakat di desa ini sangat lekat dengan kesenian Jawa, antara lain karawitan, gejog lesung, kothekan, macapat, dan panembrama. Saat rombongan kami datang, kami juga disuguhi dengan pertunjukan panembrama serta macapatan. Bagi wisatawan atau orang-orang yang ingin nguri-uri kebudayaan Jawa, mereka bisa datang ke tempat ini untuk belajar nembang, nggamel, dan macapatan secara langsung, atau hanya sekedar menonton saja.

Setelah disambut dengan pertunjukan panembrama dan macapatan, rombongan kami diajak untuk mengunjungi kompleks IPAL dan MCK Komunal. Awalnya kami membayangkan tentang tempat yang kumuh dan berbau, namun ternyata tempat itu jauh dari apa yang kami bayangkan. Di tempat itu terdapat sebuah bangunan yang cukup megah dan bersih yang merupakan MCK komunal. Selain itu terdapat play ground area, stan-stan penjual suvenir, gazebo, dan kolam pemancingan. Tampak beberapa ibu-ibu sedang bermain gejog lesung dan kulintang. Di tempat ini pula makan siang telah menanti. Tanpa perlu disuruh untuk kedua kalinya, kami segera menikmati makanan yang disediakan oleh warga Desa Sidoakur. Menurut salah seorang warga, semua yang dihidangkan merupakan olahan dari hasil bumi desa tersebut. Bersantap siang di tengah persawahan dan diiringi musik kulintang membuat kami tak ingin beranjak dari tempat itu.

Seusai santap siang, kami berpamitan dengan warga setempat untuk beranjak pergi meninggalkan Desa Sidoakur. Tujuan kami selanjutnya adalah wisata edukatif Taman Pintar yang terletak di jantung Kota Yogyakarta. Sesampainya di Taman Pintar, kami disambut oleh Drs. Edi Heri Suasana, M.pd, yang merupakan Kepala Taman Pintar. Setelah beramah-tamah, kami pun diajak berkeliling area Taman Pintar. Taman Pintar sendiri terbagi dalam beberapa area, dan masing-masing area terbagi dalam berbagai zona. Area tersebut antara lain: play ground area, tapak presiden area, desaku permai, gedung oval, gedung kotak, gedung memorabilia, gedung PAUD Barat (west herritage) dan gedung PAUD Timur (east herritage). Berhubung Taman Pintar akan tutup pukul 17.00 WIB, kami hanya sempat berkeliling di tiga gedung utama, yaitu gedung memorabilia, gedung oval, dan gedung kotak.

Menurut Pak Edi, gedung memorabilia merupakan satu-satunya gedung di Indonesia yang mengangkat konsep museum dengan berisikan tentang sejarah Kraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman, sejarah pendidikan Indonesia, serta sejarah presiden Indonesia. Di gedung ini kami tidak hanya disuguhi dengan gambar dan replika, melainkan juga bisa minta penjelasan kepada pemandu ataupun dengan mengoperasikan peraga ICT (Information and Communication Technology) yang tersedia.

Dari memorabilia kami beranjak ke gedung oval dan gedung kotak. Kedua gedung ini merupakan gedung utama Taman Pintar. Di gedung oval dan gedung kotak terdapat berbagai zona seperti zona akuarium air tawar, zona binatang dan manusia purba, harmoni alam, dome area, zona listrik, jembatan sains, zona Indonesiaku, dan masih banyak lagi. Di masing-masing zona terdapat alat peraga dan pemandu yang akan menjelaskan tentang fungsi serta cara kerja alat peraga tersebut.

Selesai mengitari memorabilia, gedung oval, dan gedung kotak, kami pun kembali ke exhibiton hall untuk berpamitan dengan pihak pengelola Taman Pintar. Menurut jadwal, masih ada dua tempat yang belum kami kunjungi, yaitu Desa Wisata Dipowinatan dan Pasar Klithikan. Namun, berhubung hari sudah menjelang senja, kru http://www.WisataMelayu.com dan beberapa peserta dari dalam kota, memutuskan untuk mengakhiri perjalanan sampai di sini. Sedangkan peserta yang berasal dari luar kota masih tetap bersemangat untuk melanjutkan perjalanan.

Dalam perjalanan pulang menyusuri Jalan Mataram saya sempat berfikir tentang pengalaman saya berkeliling Daerah Istimewa Yogyakarta hari ini. Yogyakarta memang daerah yang sangat istimewa, hampir semuanya ada di sini, mulai dari gunung hingga laut, dari mal megah hingga pasar tradisional, dari wisata sejarah hingga wisata kuliner. Maka tak heran jika banyak orang yang jatuh cinta dengan Yogyakarta. Seperti bait terakhir lagu Katon Bagaskara, “Setiap waktu kini berpadu, pada kenangan tak berlalu, Segenap rasa dariku t’rus mengalir, cinta tanpa akhir, untuk Jogja … ”.

Note: Tulisan ini juga dimuat di sini

About Sash

mahasiswa tingkat akhir | reporter | juru ketik | juru potret amatir | pemimpi | penyuka milo hangat, bintang, senja, kunang-kunang View all posts by Sash

2 responses to “Yogyakarta, Wisata Tanpa Akhir

  • ecka

    Wah, sha….waktu itu aku ga ikut, banyak kerjaan
    btw kalo ada info sejenis kabar2i yah
    btw aku kok tertarik sama desa wisata sidoakur yah
    ada no kontaknya gak? thanks

    Yupz beres mbak,, uhm aku gak ada no kontaknya,,, tapi coba tak tanya ma orang DISBUDPAR Sleman ya,, tar nek udah dapat mbak tak hubungi

  • andro

    wah…wah…senengnya yang isa jalan-jalan sambil lirik-lirik obyek wisata (upsss…) awkawkawkawkawk

    bilang ajah bisa lirik2 orang upz,,, dilirik dinkz wkwkwkwkwk,,, ah katanya kasus itu sudah ditutup😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: