Tessera

Pernahkah kalian berfikir untuk apakah kamu hidup? Atau apakah tujuan hidupmu? Seringkali orang di pusingkan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan makna ataupun tujuan hidup. Teman-teman saya sering mengeluhkan hal ini. Belum lama ini ada seorang kawan yang mengirimkan email kepada saya yang bunyinya kurang lebih seperti ini:

Sha aku bener2 nggak ngerti apa yang sedang aku lakukan atau untuk apa aku melakukan semua ini. Aku ngrasa semuanya semu, hampa, gak ada gregetnya, seperti ada satu ruang kosong di hidupku dan aku gak ngerti harus di isi dengan apa. Aku kok ngrasa DO ya sha.

Sebenarnya email itu merupakan balasan dari email saya yang mengucapkan selamat kepadanya karena dia baru saja slese ujian pendadaran, dinyatakan lulus cum laude dan di terima kerja di sebuah perusahaan yang menurut saya – pinjem bahasanya Indra Kepompong – Ih wow banget. Makanya saat baca email dari dia saya sempat mengernyitkan kening en gak habis pikir,, kenapa seorang dia kok bisa merasa kayak gini. Merasa hampa dan kosong bahkan sampe DO (itu bahasanya temen-temen kalo lagi stress, DisOrientasi hehehehe). Bukankah apa yang dia alami seharusnya bikin dia bangga, bikin dia tambah semangat,, tapi kenyataan yang terjadi malah sebaliknya.

Pikiran saya kembali melayang, sepertinya tidak hanya dia yang pernah mengeluhkan tentang hal ini, teman-teman yang lain juga, bahkan saya beberapa kali sempat mengalaminya. Merasa gagal dan tidak berarti, merasa kosong dan useless. Padahal kenyataannya saya tidak seperti itu, meski kuliah gak slese2 tapi ada beberapa hal yang bisa saya banggakan (gak usah di tulis, nanti saya jadi narsis hehehehe). So kembali ke pertanyaan saya, kenapa orang-orang sering mengalami hal ini?

Pertanyaan saya terjawab sudah beberapa hari yang lalu. Saat itu saya sedang membaca sebuah buku keren abis karangan Rick Warren “The Purpose Driven Life”. Sebenarnya sih buku ini sudah saya beli sejak tahun lalu dengan niat akan saya berikan kepada seseorang berbaju hitam, namun entah kenapa hingga hari ini buku itu masih tersimpan di rak buku saya. Satu hal yang kemudian memaksa saya untuk membaca buku itu adalah tulisan yang terpampang di bawah judul “what on earth am I here for” , untuk apakah saya ada di dunia ini. Yah itu pertanyaan banyak orang di dunia, dan sedikit nyambung dengan penyataan temen saya di email. Secara tidak langsung teman saya itu mempertanyakan untuk apa dia hidup di dunia ini. Dia merasa apa yang dia lakukan sia-sia, nothing.

Setelah membuka lembar demi lembar saya menemukan suatu jawaban yang bener-bener beyond of people mind. Selama ini orang selalu berfikiran bahwa tujuan hidup sudah tercapai jika orang itu sukses, kaya, sehat, punya keluarga yang bahagia. Sehingga hal itu menjadi sesuatu yang mereka kejar, sesuatu yang menjadi fokus hidup mereka, sehingga mereka melupakan hal yang lain. Padahal itu salah total. Menjadi orang sukses dan menjadi orang yang memenuhi tujuan hidup adalah sesuatu yang sangat berbeda. Saat mereka sukses mereka belum tentu mendapatkan tujuan hidup mereka, sehingga mereka berjalan dalam kehampaan dan kekosongan. Mereka seperti gasing, berputar-putar namun tidak pernah sampai ke suatu tempat, hingga pada akhirnya mereka akan kelelahan dan berhenti.

Harta yang melimpah, karir yang menanjak, keluarga yang bahagia, tubuh yang sehat, itu bukanlah tujuan utama hidup kita. Tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan Allah Sang Pencipta, karena segala sesuatu di dunia ini bukan tentang kita melainkan tentang Dia. Harta, karir, keluarga, kesehatan itu semuanya adalah kepingan-kepingan yang saling melengkapi sehingga pada akhirnya akan membentuk kesatuan yang indah.

Seperti lukisan kaca yang terpatri di dinding gereja. Lukisan itu terlihat sangat indah dan berkilauan. Jika kita cermati lebih lanjut lukisan itu terdiri dari ribuan kepingan kaca kecil-kecil yang kemudian disatukan. Masing-masing kepingan menempati bagiannya masing-masing. Kepingan-kepingan itu adalah tessera. Kepingan itu bukan yang utama, melainkan bagian dari suatu lukisan yang utuh, yang akan tampak indah jika semua kepingan disatukan.

Yah pertanyaan tentang tujuan hidup terjawab sudah. Kenapa teman saya merasa kosong dalam hidupnya. Karena dia hanya mencari satu keping, tanpa pernah menyadari bahwa satu keping itu tidak akan pernah lengkap jika tidak di satukan dengan tessera yang lainnya. Mari saatnya kita mencari dan melengkapi tessera demi tessera,, hingga akhirnya nanti akan tercipta suatu lukisan yang indah.

Tulisan ini pernah dimuat di buletin Marturia PMK UNY

About Sash

mahasiswa tingkat akhir | reporter | juru ketik | juru potret amatir | pemimpi | penyuka milo hangat, bintang, senja, kunang-kunang View all posts by Sash

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: