Sash Sayang Bapak, Sangat!!

Andaikata suatu saat saya berkesempatan untuk mengikuti ajang Miss Universe *gdubrak* dan ada juri yang menanyakan siapakah tokoh sentral dalam hidup saya tentu saja nama ibu akan meluncur dari mulut saya. Bagi saya ibu adalah sosok yang paling menginspirasi dan berpengaruh dalah kehidupan saya hingga detik ini. Namun, selain tokoh sentral, kehidupan saya juga diisi oleh sosok bapak yang-bagaimanapun-juga memiliki peranan dalam menjadikan saya sebagai sosok Sash yang sekarang ini ada.

Nah, kali ini saya tidak akan membicarakan tentang kedua orang tua saya, melainkan saya hanya akan berbicara tentang bapak saja. Ini bukan karena saya pilih kasih, tetapi karena ada sesuatu yang ingin saya katakan tentang bapak saya. Kata orang-orang anak perempuan cenderung memiliki hubungan yang lebih dekat dengan sosok bapak. Namun, hal itu tidak berlaku bagi saya. Hubungan saya dengan bapak boleh dibilang love-hate relationship. Yah, disatu sisi saya sering ‘tidak suka’ dengan bapak karena berbagai hal yang telah beliau lakukan, namun jujur dalam hati kecil saya, saya sangat menyayangi bapak. Saya tidak ingat mulai kapan ‘permusuhan-kecil’ ini terjadi, namun setidaknya saya masih ingat beberapa hal manis yang pernah beliau lakukan untuk saya.

Mungkin saya adalah anak yang beruntung, pernah merasakan sensasi diantar sekolah oleh bapak. Yah, saat sekolah (SMP-SMA)saya seringkali diantar oleh bapak. Just FYI, rumah saya terletak di sebuah desa nan pelosok, jauh dari kota dan tidak ada angkot yang sampai di desa saya. Sehingga tiap berangkat sekolah saya harus menumpang mobil bak terbuka (sudah bisa membayangkan bagaimana udiknya saya kan?? Hehehe). Saat itulah bapak sering mengantar saya dengan motor bututnya. Saya yang tidak pernah mau sarapan selalu dipaksa bapak untuk mau menenggak racun ^_^ segelas the manis yang sudah beliau bikin. Bapak selalu berucap “koe ki ra tau gelem sarapan, ra gelem nggo jaket, nek masuk angin piye? Ki teh’e dimimik sek ban wetengmu anget,” dengan sedikit terpaksa sayapun meminum teh buatan bapak, dan memang benar hangatnya langsung terasa ke parut sehingga saya tidak masuk angin meskipun naik motor dibonceng bapak tanpa jaket di tengah dinginnya udara kota Wonosobo pagi hari.

Sepanjang jalan bapak selalu mengajak saya bernyanyi, dan saat yang paling menyenangkan adalah bermain tebak-tebakan tentang pagi ini matahari akan terbit dari balik gunung apa, Sindoro atau Sumbing. Hal itu terus berlangsung hingga SMA. Bahkan ketika duduk di bangku kuliah pun pernah sekali waktu saat bapak menjenguk saya ke Jogja (saat itu saya masih maba yang imut ^_^ dan tinggal di Ambarukmo), bapak mengantar saya berangkat ke kampus dengan motor binter metaliknya yang sudah butut. Sebenarnya sih saat itu terselip rasa malu juga ‘hari gini berangkat kampus dianterin bapak pake motor butut lagi,,’ tapi saya tidak berani menolak permintaan bapak, dengan enggan dan terpaksa sayapun mau diantar ke kampus dengan satu catatan saya-turun-jauh-dari-fakultas.

Bapak juga lah tukang ojek *kualat koe Sash hehehe* yang selalu menjemput saya, semalam apapun saya sampai di terminal sepulang saya dari Jogja. Di malam-malam gelap tersebut beliau selalu menyanyikan lagu untuk saya saat melintasi hutan belantara (“,) menuju rumah karena bapak tau bahwa saya ketakutan melintasi jalan tersebut. Pernah juga pukul 10 malam beliau mengantarkan saya kembali ke Jogja, melintasi dingin dan berkabutnya Sindoro Sumbing gara-gara pagi harinya saya harus ujian prose III, saat itu saya di Wonosobo karena harus mengisi acara di Gedung Adipura. Sampai Jogja hampir pukul 1 dinihari, dan pukul 5 pagi beliau sudah kembali lagi ke Wonosobo karena harus mengajar pukul 8 pagi.

Bapaklah yang selalu mendongengi saya setiap malam sebelum tidur, tentang kisah kancil nyolong timun, kancil dan buaya, perlombaan kancil dan siput, kancil dan daun jati, dan kancil dalam berbagai seri. Bodohnya lagi saat SMP saya pernah memetik daun jati dan mengusap-usapkannya ke bibir saya dengan harapan bibir saya akan menjadi merah merona alami seperti kisah kancil dan daun jati yang pernah bapak dongengkan, dan apa yang terjasi saudara-saudara? Bibir saya menjadi gatal-gatal. Gara-gara selalu didongengi sejak kecil, hingga saat ini saya masih suka mendengarkan dongeng dan menjadi pendongeng.

Bapak adalah orang yang hampir selalu mendukung saya dalam setiap hal yang saya lakukan. Bapak yang selalu menenangkan ibu ketika beliau sudah mulai kuatir dengan tingkah anak gadis pertamanya yang dianggap-terlalu-bandel-sebagai-anak-cewek, bapak yang mendukung saya 100% untuk masuk di jurusan bahasa kala SMA, mengijinkan saya untuk mencicipi dunia yang baru di EKPSRESI, mengijinkan saya melakukan aktivitas yang sedikit menaikkan adrenalin, dan bapak pula yang pertama kali memberi saya kepercayaan untuk melakukan apa yang sudah menjadi pilihan saya.

Namun, disisi lain bapak jugalah sosok yang selalu protes atas rambut panjang saya yang saya babat habis hingga tinggal sebungkusan kepala, bapak yang tidak setuju atas hubungan saya dan dia (waktu itu), bapak yang sering protes dengan beberapa hal yang saya lakukan, yang padahal bagi ibu hal tersebut fine-fine saja. Semakin hari saya merasakan hubungan saya dengan bapak semakin renggang karena ada berbagai perbedaan pandangan. Saya semakin berani untuk mengatakan ketidaksukaan saya terhadap beberapa keputusan dan perlakuan bapak. Di satu sisi saya merasa bapak sudah tidak memahami saya lagi, bapak begitu tidak peduli pada saya, dan bapak menjadi sosok yang begitu menyebalkan. Namun, dibalik perdebatan-perdebatan panjang yang pernah ada, di balik rasa kepercayaan yang mulai memudar, dibalik ‘ketidaksukaan saya’, dibalik semuanya itu saya tetap menghargai bapak.

Kali ini Saya hanya ingin bilang pada bapak bahwa saya sangat sayang bapak dan selalu bangga menjadi anak perempuan bapak. Maaf untuk setiap kata menyakitkan yang pernah terucap, maaf untuk tiap perbedaan pendapat yang pernah terjadi, maaf untuk tiap bantahan atas perintah, maaf untuk sedikit ketidakpercayaan (biarkan waktu yang memulihkan), maaf untuk semuanya. Sash sayang bapak, sangat!!

Selamat ulang tahun pak! Hanya doa tulus yang Sash panjatkan, semoga bapak semakin erat dalam penyertaan dan lindungan tanganNYA, semoga bapak semakin bisa mengerti Sash, ibu, dan adek.

About Sash

mahasiswa tingkat akhir | reporter | juru ketik | juru potret amatir | pemimpi | penyuka milo hangat, bintang, senja, kunang-kunang View all posts by Sash

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: