Lagi-lagi Festival Lagi

IMG_0007

Hijau-hijau menyegarkan

Tampaknya judul postingan saya kali ini tidak terlalu berlebihan, mengingat akhir-akhir ini Kota Jogja seringkali mengadakan festival. Tak percaya dengan ucapan saya? Mari kita buktikan, kita hitung satu persatu festival, karnaval, kirab, parade, pawai, dan apapun itu namanya yang sudah dilaksanakan di kota ini dalam hitungan 2 bulan terakhir. Pawai Budaya HUT Jogja, Jogja Java Carnival, Festival Museum, Parade Andong dalam rangka sumpah pemuda, Festival Makanan Tradisional, dan Festival Malioboro. Itu yang sudah terlaksana, belum lagi rencana Festival Wayang Orang 2009 (12-14 Nove), Ngayogjazz 2009 (20 – 21 Nove), dan festival-festival lainnya.

Dari daftar festival yang sudah saya tulis barusan, hanya Festival Museum dan Festival Makanan Tradisional yang tidak saya tonton. Festival lainnya jelas saya ikut hehe. Mungkin beberapa teman saya akan protes “Lhah Sash katanya kamu nggak suka keramaian” dan inilah jawaban saya “Saya emang nggak suka rame dan bisingnya mall, tapi kalo ramenya festival apa pasar malam saya suka”. Sebagian orang akan menganggap saya aneh karena saya termasuk orang yang anti-mall. Dalam satu tahun terakhir bisa diitung dengan jari berapa kali saya masuk ke Saphir Square, Amplaz, Malioboro Mall, atau Galeria (10 jari saya rasanya masih terlalu banyak dibandingkan berapa kali saya nge-mall). Kebisingan dan hiruk pikuk suasana di mall membuat pikiran saya semakin ruwet. Mangkanya saya heran dengan salah satu teman saya yang kalo stress mainnya ke mall,, apa nggak malah tambah stress ya? Tapi kan kesukaan orang beda-beda dinkz hehehe.

Meski sama-sama bising dan riuh, festival dan teman-temannya jelas menjanjikan sesuatu yang berbeda. Dalam kebisingan dan keriuhan festival saya bisa melihat kondisi masyarakat yang tanpa sekat, tanpa kelas, dan tanpa batas. Kenapa saya bilang begitu? Ya karena dalam festival semua orang bercampur menjadi satu. Tidak peduli si kaya, si miskin, pejabat, bawahan, walikota, tukang becak, semuanya berbaur. Dan itu yang membuat saya suka. Saya ingat dengan salah seorang pemikir Rusia, Mikhail Bakhtin. Dialah orang yang mengumandangkan apa yang disebut dengan Karnaval. Baginya karnaval merupakan sesuatu yang spontan, tak terduga dan bebas, menjadi antitesis bagi semua usaha yang hanya menuntut efisiensi, efektivitas, kemanfaatan. Dalam arti tertentu hal ini juga merupakan sebuah dobrakan terhadap rutinitas hidup yang persegi empat, hidup yang semua sisinya sama, semuanya sisinya menjadi batas, dan semua sisinya sudah bisa diduga.

Saat menyaksikan karnaval atau festival (ah bagi saya artinya tidak beda jauh, silahkan saja cek di KBBI ^_^) saya bisa melihat sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda dengan keadaan sehari-hari, sesuatu yang mendobrak batas-batas kewajaran. Di karnaval maupun festival saya bisa berbuat sesuka hati saya. Mau jungkir balik, tertawa, menangis, teriak berlari, pake baju aneh, dandan ajaib, ah itu biasa, tidak akan ada orang yang protes. Dan kesenangan seperti itu tidak bisa saya dapatkan ditempat lain. Biasanya pada saat karnaval akan muncul sesuatu yang tak terduga, ending yang tak kan pernah bisa kita tebak.

Dari beberapa festival di Jogja yang saya lihat akhir-akhir ini (tolong maafkan inkonsistensi saya dalam tulisan kali ini tentang penyebutan karnaval maupun festival), menurut saya Jogja Java Carnival tetep paling asyik, soalnya pake pesta kembang api hehehe. Pawai Budaya HUT Jogja lumayan rame, tapi kalo lainnya mah standar. Bahkan kadang terlihat kurang persiapan, kurang publikasi, dan terlalu dipaksakan untuk dilaksanakan. Namun setidaknya lumayan buat sekedar hiburan.

Bertepatan dengan tanggal 6 November kemarin, ada karnaval nusantara yang merupakan pembuka gerbong acara festival Malioboro, dan lagi-lagi saya tidak mau ketinggalan untuk menyaksikannya (dasarnya suka jalan-jalan hehehe). Karnaval yang mengambil start dari Taman Parkir Abu Bakar Ali ini berakhir di halaman Benteng Vredeburg. Saya tidak akan menceritakan tentang detil acara itu, yang jelas saya sedikit kecewa dan berfikir “Lah kok acaranya cuma kaya gini sih?” namun tiba-tipa pakde Mikhail Bakhtin nyeletuk “Lha, kan karnaval itu ya gitu, tidak akan pernah bisa kamu duga endingnya, bisa bikin kecewa maupun tertawa, ndak usah banyak protes, nikmati saja!”.

IMG_0012

Kosek to mbak ojo dipoto, aku tak mbenerke iket sek

IMG_0046

Drung...dung...dung...dung...dung....

foto

Prajurit Bregodo,, muncul di tiap karnaval sebagai pembuka jalan...

:: siap-siap berburu karnaval selanjutnya ^_^ ::

About Sash

mahasiswa tingkat akhir | reporter | juru ketik | juru potret amatir | pemimpi | penyuka milo hangat, bintang, senja, kunang-kunang View all posts by Sash

2 responses to “Lagi-lagi Festival Lagi

  • 2qman

    apik. lanjutkan. wisata terus. jalan2 terus. aku pengen.🙂

    wakakakak,,,, mas 2qman mampir ke rumahku ternyata ^_^,,, aih senangnya….

  • Izzah

    Jalan2 terus!!
    kapan iki isa nontok festival kya gini?

    Sash::
    Ayo mbak ke Jogja, ni sekarang lagi ada festival museum, terus tanggal 2-5 ada Jogja International Street Performance, atau tanggal 16 aja, ada Jogja Java Carnival😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: