4 Jam di Titik Nol Kilometer [Part 1]

:: MELIHAT ISTANA DARI DEKAT ::

IMG_0014

Gedung Agung tampak dari atas Benteng Vredeburg (gak bisa dapat foto yang lebih bagus dari ini,, hikz..)

Selama ini tiap kali melewati  Jalan Ahmad Yani saya hanya bisa memandangi bangunan megah yang berdiri di kanan jalan sebelum perempatan Kantor Pos Besar. Sebenarnya saya ingin sekali memasuki bangunan itu dan berkeliling di dalamnya, namun semuanya itu tidak pernah bisa terlaksana. Paling banter yang bisa saya lakukan adalah duduk di depan Benteng Vredeburg sembari menatap gedung tersebut dari balik pagar besi dan berpikir “kapan ya bisa masuk ke gedung itu?”. Bagi Anda yang orang Jogja atau sering ‘berkeliaran’ di Jogja tentu saja tahu dengan pasti gedung apakah itu, yupz Anda benar bangunan tersebut adalah Gedung Agung.

Gedung Agung merupakan salah satu dari 5 istana kepresidenan yang ada di Indonesia.  Pembangunan gedung ini berawal dari keinginan Residen Jogjakarta ke-18, Anthonie Hendrick Smisaaert, tentang  adanya ‘istana’ yang berwibawa yang bisa digunakan sebagai kantor dan tempat tinggal bagi residen-residen Belanda. Gubernur Jenderal Belanda pun memilih Antonie Payen sebagai arsitek pembangunan gedung megah tersebut. Gedung ini mulai dibangun pada tahun 1824 dengan mengambil tempat di depan Benteng Vredeburg yang letaknya tidak jauh dari Kraton Yogyakarta. Hal itu tentu saja bertujuan supaya pihak Belanda bisa “mengawasi” kegiatan di Kraton.

Pecahnya Perang Diponegoro pada tahun 1825-1830 menyebabkan pembangunan gedung terhenti. Gempa bumi dua kali yang terjadi pada tahun 1867 juga menyebabkan kerusakan parah pada bangunan tersebut. Gedung tersebut direnovasi dan rampung pada tahun 1869. Bangunan hasil renovasi inilah yang kemudian menjadi Gedung Induk Kompleks Istana Kepresidenan Yogyakarta. Tapi tunggu dulu, bagaimana ceritanya gedung tersebut beralih fungsi dari Istana Residen Belanda menjadi Istana Presiden Indonesia?

Berdasarkan data sejarah yang ada, pada tanggal 19 Desember 1927 status administratif wilayah Yogyakarta sebagai karesidenan ditingkatkan menjadi provinsi, sehingga penguasa tertinggi Belanda menjadi gubernur. Saat itu Gedung Agung menjadi kediaman gubernur Belanda di Yogyakarta. Hal ini berlangsung hingga masuknya Jepang ke Indonesia. Pada masa pendudukan Jepang gedung ini diambil alih dan digunakan sebagai kediaman resmi penguasa Jepang di Yogyakarta, yaitu Koochi Zimmukyoku Tyookan.

Setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, Gedung Agung inipun menjadi milik Indonesia. Pada saat pemerintahan Republik Indonesia hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta, Gedung Agung berubah menjadi Istana Kepresidenan dan digunakan sebagai tempat tinggal Presiden pertama RI, Ir. Sukarno beserta keluarganya. Sedangkan wakil presiden, Mohammad Hatta tinggal di gedung sebelahnya, yang saat ini menjadi gedung Korem 072/Pamungkas. Semenjak saat itu, banyak peristiwa penting dalam catatan sejarah Indonesia yang terjadi di Gedung Agung. Keberadaan Gedung Agung saat ini sejajar dengan keberadaan Istana Negara Jakarta, Istana Tampaksiring, Istana Bogor, dan Istana Cipanas.

Dengan “embel-embelnya” sebagai Istana Kepresidenan tentu saja menjadikan gedung tersebut unreachable untuk masyakarat kelas bawah seperti saya ^_^. Sudahlah Sash mimpi sajalah kau. Eits tapi tunggu dulu, bukankah dalam’The Alchemist’ Paulo Coelho bilang “Ketika kau menginginkan sesuatu dengan sepenuh hatimu maka seluruh jagat raya bersatupadu membantumu mewujudkannya” dan ternyata itu terbukti benar. Setelah sekian lama ngidam ingin masuk Gedung Agung, saya berkesempatan mengunjungi serta berkeliling di bagunan tersebut. Hal ini tentu saja tak lepas dari adanya Festival Malioboro. Jadi, selama Festival Melioboro berlangsung Gedung Agung dibuka untuk umum. Owowow,, tentu saja kesempatan langka ini tidak saya sia-siakan.

Setelah berhasil mengompori beberapa teman, Minggu Sore (8/11) kamipun berangkat ke Gedung Agung. Menjelang pintu masuk  tiba-tiba saya teringat novel Burung-Burung Manyar yang pertama kali saya baca saat masih mengenakan seragam putih abu-abu. Ada satu adegan dimana Setadewa a.k.a Teto bersama pasukannya berjalan mengendap-endap dari arah utara menyusuri Tugu dan Malioboro untuk menyerbu serta mengambil alih Gedung Agung.

Ah kali inipun saya juga berjalan dari arah utara, dari pasar Beringharjo. Saya juga membawa pasukan saya, bedanya jika pasukan Teto mungkin terlihat lusuh maka pasukan saya kali ini tampak rapi jali dengan batik, sepatu, celana kain, maupun rok (yang cewek). Romo Mangun kemudian mengisahkan tentang Teto yang duduk lunglai di atas tangga-tangga istana sambil mengenang satu gadis yang sangat dicintainya, Larasati. Nah kali ini berbeda, saya tidak lunglai memikirkan pria yang saya cintai meski dia tidak ikut perjalanan kali ini (haiyah… hehehe). Saya hanya tertunduk lesu karena tidak diijinkan membawa kamera ke dalam kompleks istana. Setelah disambut oleh petugas dan mendapatkan tanda pengenal, kami pun diajak untuk melihat dari dekat Gedung tersebut.

Ruang pertama yang ditunjukkan adalah Ruang Garuda. Ruang Garuda merupakan ruangan resmi yang terletak di tengah gedung utama. Ruangan ini berfungsi sebagai ruang pertemuan dan juga ruang untuk menerima tamu Negara. Di sebelah kanan Ruang Garuda terdapat Ruang Soedirman. Di ruangan ini Jendral Sudirman meminta ijin kepada Presiden Sukarno (yang saat itu sedang memimpin rapat di Ruang Garuda) untuk mulai melakukan gerilya melawan penjajah. Ruangan yang dihiasi dengan patung Jendral Sudirman tersebut saat ini difungsikan sebagai ruang transit untuk tamu negara yang datang ke Yogyakarta.

Tak berlama-lama di runagan tersebut mini tur pun dilanjutkan menuju ruang makan VVIP. Tempat ini biasa digunakan untuk acara jamuan makan malam. Satu hal baru yang saya ketahui, pada saat diadakan gala dinner semua kursi harus terisi penuh tidak boleh ada yang kosong. Lalu bagaimana caranya agar tau jumlah tamu yang datang? Satu jam sebelum acara dimulai, tamu undangan harus mengkonfirmasi kehadiran. Jadi jumlah kursi akan langsung disesuaikan. Selain itu bagi tamu yang datang berpasang-pasangan jangan harap bisa duduk berdampingan dengan pasangannya. Karena protokoler yang berlaku adalah tempat duduk diselang-seling antara tuan rumah dan tamu undangan.

Beranjak dari ruang makan VVIP kami digiring menuju ruang kesenian. Di ruangan ini terdapat piano dan gamelan. Sesuai dengan namanya ruang kesenian, tentu saja ruangan ini digunakan sebagai ruang pertunjukan kesenian. Namun, terkadang ruangan ini berubah fungsi menjadi ruang makan, ruang pameran, ruang rapat, maupun ruang koordinasi pengamanan. Tampak dibalik jendela terdapat Wisma Sawo Jajar yang digunakan sebagai tempat menginap tamu. Selain itu juga ada wisma Bumi Pratelu yang digunakan untuk menginap rombongan paspampres, food security, dan terkadang menjadi ruangan display. Tak jauh dari situ juga terdapat Gedung Seni Sono.

Tanpa terasa mini tur kali ini pun usai sudah. “Lho ini udah slesei to Sash?” tanya teman saya. Sayapun mengangguk pelan sambil mencari tas di tumpukan, berusaha mengeluarkan kamera dan mengambil gambar. Namun ternyata oh ternyata, sekali tidak boleh tetap tidak boleh, bahkan meskipun cuma mengambil foto gedung dari depan. “Ini aturan negara mbak!!” kata seorang security. Bahkan teman saya anak Radar Jogja pun sempat harus eyel-eyelan dengan petugas, padahal udah jelas-jelas dia wartawan en pake kartu pers, kalo saya mah emang gak bawa ID card hehehe (mana nih kok IDnya belum jadi-jadi…).

Tapi gak puas rasanya kalo gak bisa foto di sini, karena foto ini nantinya merupakan bukti otentik bahwa saya pernah mengunjungi Gedung Agung hehe. Setengah nyuri-nyuri, sayapun bisa mnegambil beberapa gambar teman-teman dengan background Gedung Agung, la saya? Nasib jadi tukang poto ya begini, tidak ada foto saya!! Hiks sedihnya,,, eh tapi bohong dinkz kalo tidak ada foto saya. Ada sih, tapi background gedungnya ndak kelihatan jelas, jadi ya sama saja bo’ong.

IMG_0011

Pohon, lampu jalan, tower, tiang bendera, semua hidup berdampingan ^_^

Note: Data diambil dari sini

 

About Sash

mahasiswa tingkat akhir | reporter | juru ketik | juru potret amatir | pemimpi | penyuka milo hangat, bintang, senja, kunang-kunang View all posts by Sash

2 responses to “4 Jam di Titik Nol Kilometer [Part 1]

  • tinaKris

    Hu’uh…sayang banget gak isa foto-foto n pamer2 foto…Memang aturang negaranya seperti apa to?sampe2 buat rakyatnya sendiri secret banget…hihi…

    aturan negaranya seperti apa? la yo tanya sama yang punya negara sana hehehe… aku juga gak ngerti, pokmen ga boleh ambil gambar, pakaian harus rapi (no jeans, no tshirt, no sandal jepit)… dan beberapa aturan lainnya ^_^

  • DV

    Wah, tulisanmu memperkaya khasanahku tentang kota yang sangat kucintai, Yogyakarta!
    Maturnuwun dan beruntung Anda pernah masuk ke dalamnya.

    Saya belum pernah sama sekali, paling banter cuma sampai di pos satpam waktu sesudah gempa karena pengen ngeliat presiden dari jarak dekat hehehe…

    Tapi karena cuma berkaos oblong dan celana jeans, maka saya pun ditolak mentah-mentah dan gagalah cita-cita saya melibat SBY, si empunya negara, dari jarak dekat :))

    Tulisan ini sebagai bukti bahwa saya juga sangat mencintai Jogja mas ^_^,, iya kalo pake kaos oblong sama jeans langsung di’usir’. Kalo pengen liat SBY dari jarak dekat kan bisa dari tipi mas, dekat banget malah, tanpa penghalang… hehehehe :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: