4 Jam di Titik Nol Kilometer [Part 2]

:: DARI RUSTENBURG MENJADI VREDEBURG ::

IMG_0016

Keluar dari Gedung Agung ‘pasukan’ saya terpisah menjadi dua. 4 orang memutuskan untuk mengisi perut di Oyot Godhong Cafe (Mirota Batik lantai 3) dan berjanji untuk bertemu kembali pada pukul 16.00 WIB di Taman Budaya untuk lihat opening Pekan Seni Anak, sedangkan 4 lainnya (termasuk saya) bingung mau ngapain. Ada berbagai pilihan, tetep duduk di depan Gedung Agung hingga pukul 16.00, makan di salah satu stand yang ikut Festival Kuliner di area Monumen SO 1 Maret, atau masuk ke Gedung Memorabilia Taman Pintar. Berhubung De bilang “Terserah kamu aja Sash, hari ini kan kamu tour leadernya, tapi aku lapar” maka saya memutuskan untuk mengunjungi Festival Kuliner.

Saat menyebrang jalan Ahmad Yani tiba-tiba lain muncul, “Eh gimana kalau main ke Benteng aja dulu?” Merekapun mengangguk tanda setuju. Dari Gedung Agung kami menyeberang ke Benteng Vredeburg, ternyata dari keempat orang tersebut hanya saya dan Eka yang pernah main ke Benteng (yaelah kalian di Jogja udah berapa tahun mas mbak??), itupun main saat ada Festival Kesenian Yogyakarta, jadi kalo isi benteng secara keseluruhan kami belum tau.

Untuk masuk ke Benteng ini kami harus membayar tiket, dan coba tebak berapa harga tiketnya? Dewasa 10 ribu anak-anak 5 ribu (itu tiket masuk Taman Pintar kaleeeeee Sash hehehehe). Harga tiketnya amat,,,amat,,,amat,,, sangat murah. Kami berempat hanya disuruh membayar Rp3.000 jadi perorangnya cuma 750 perak, murah banget kan? Ayo makanya buruan main ke Benteng Vredeburg, dijamin Anda tidak akan menyesal mengunjungi bangunan yang sarat akan nilai-nilai sejarah ini (promosinya udah kaya orang dinas pariwisata belum ya?) 🙂

Sejarah berdirinya Benteng Vredeburg tak bisa terlepas dengan adanya Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Perjanjian tersebut merupakan perwujudan Belanda untuk membelah Mataram menjadi dua, yakni Kasuhunan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Kasultanan Yogyakarta diperintah oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian hari bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono Senopati Ing Alogo Abdul Rachman Sayidin Panata Gama Khalifatullah I atau dikenal sebagai Sri Sultan HB I.

Setelah Kasultanan Yogyakarta berdiri, langkah awal yang diambil Sri Sultan adalah membangun Keraton pada 9 Oktober 1756. Selain itu, Sultan HB I juga mengumumkan bahwa wilayah yang menjadi daerah kekuasan beliau diberi nama Nhayogyakarta Hadiningrat dengan ibukota Ngayogyakarta. Walau pembangunan kraton belum selesai secara sempurna, pada Kamis Pahing 7 Oktober 1756 Sri Sultan dan keluarga mulai menempati kraton tersebut. Tanggal ini pula yang menjadi acuan peringatan HUT Kota Yogyakarta hingga saat ini.

Secara perlahan namun pasti daerah sekitar kraton pun menjadi ramai. Melihat kemajuan yang pesat dari keberadaan Kraton, Belanda pun merasa khawatir sehingga munculah ide untuk membangun benteng di sekitar wilayah kraton. Alasan Belanda kala itu adalah supaya Belanda dapat menjaga keamanan kraton dan sekitarnya. Sri Sultan HB pun mengijinkan pembangunan benteng tersebut.

Sebenarnya, pada tahun 1760 atas permintaan dari Nicolas Harting, Sultan HB telah membangun sebuah benteng yang sangat sederhana berbentuk bujur sangkar. Benteng tersebut mempunyai empat bastion yang diberi nama Jayawisesa (sudut barat laut), Jayapurusa (sudut timur laut), Jayaprakosaning ( sudut barat daya), dan Jayaprayitna (sudut tenggara). Ketika Nicolas Harting digantikan oleh W.H Ossenberch pada tahun 1762, pihak Belanda mengusulkan kepada Sultan supaya banteng tersebut diperkuat menjadi bangunan yang lebih permanen. Usul tersebut dikabulkan. Pembangunan benteng pun dimulai pada tahun 1767 dengan diawasi oleh ahli ilmu bangunan Belanda bernama Ir. Frans Haak. Pembangunan benteng ini selesai pada tahun 1787. Setelah selesai, bangunan tersebut diberi nama Benteng Rustenburg yang artinya “Benteng peristirahatan”

Pembangunan benteng ini sebenarnya hanya akal-akalan Belanda saja untuk dapat ‘mengawasi’ kegiatan di dalam keraton. Lihatlah lokasinya yang hanya satu jarak tembak meriam dan menghadap jalan utama menuju keraton. Hal itu mengindikasikan  bahwa fungsi utama benteng adalah tempat menyusun strategi, intimidasi, penyerangan, dan blokade terhadap keraton apabila sewaktu-waktu Sultan berpindah haluan memusuhi Belanda. Ditambah lagi pembangunan kantor residen Belanda a.k.a Gedung Agung yang berlokasi tepat di depan Benteng Rustenburg. Semuanya menjelaskan satu hal, letak keduanya membuat ‘pengawasan’ terhadap kraton bisa dilakukan dengan lebih leluasa.

Tapi apakah Sultan begitu bodoh sehingga tidak tahu menahu tentang akal-akalan Belanda ini? Jawabannya tentu saja tidak. Sultan jelas tahu, namun Sultan juga menyadari ‘kekuatan’ Belanda yang sulit dilawan oleh pemimpin pribumi pada masa kolonial. Oleh karena itu, sultan mengijinkan pembangunan benteng tersebut. Namun, Sultan juga merespon pendirian kedua banguan tersebut dengan menanam banyak pohon asem di sekitar alun-alun utara, sehingga menghalangi jarak pandang Belanda terhadap aktivitas di dalam kraton.

Gempa bumi yang melanda yogyakarta pada tahun 1867 ternyata tidak hanya merubuhkan Gedung Agung dan Tugu Pal Putih, melainkan juga merubuhkan Benteng Rustenburg serta bangunan lainnya. Setelah bencana berlalu Benteng Rustenburg pun dibenahi kembali. Nama Benteng Rustenburg di ganti menjadi Benteng Vredeburg yang artinya ‘Benteng Perdamaian’. Nama ini dipilih sebagai manifestasi hubungan antara Kasultanan Yogyakarta dan belanda yang tidak saling menyerang pada waktu itu. Nama ini pula yang digunakan sampai sekarang.

Hampir sama dengan keberadaan Gedung Agung. Status kepemilikan Benteng Vredeburg pun mengalami perubahan dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan politik Indonesia. Pada awal berdiri benteng ini milik kraton yang penggunaanya dihibahkan kepada Belanda (VOC). Kebangkrutan VOC menyebabkan penguasaan benteng diambil alih oleh Bataafsche Republic (Pemerintah Belanda). Setelah Inggris berkuasa benteng jatuh ke penguasaan Jendral Raffles. Kemudian kembali lagi ke pemerintah Belanda hingga kedatangan Jepang.

Pada 9 agustus 1980, atas ijin Sri Sultan HB IX Benteng Vredeburg dijadikan sebagai Pusat Informasi dan pengembangan Budaya Nusantara. Pada 23 November 1992, benteng Vredeburg resmi menjadi “Monumen Perjuangan Nasional” dengan nama “Museum Benteng Vredeburg”. Saat ini di benteng Vredeburg terdapat berbagai koleksi yang dapat dilihat oleh pengunjung. Koleksi tersebut antara lain koleksi bangunan, koleksi lukisan, deodrama, dll. Tak hanya sebagai museum yang keberadaanya semakin lama semakin menghilang, Benteng Vredeburg juga kerap digunakan sebagai tempat berlangsungnya berbagai kegiatan budaya seperti Festival Kesenian Yogyakarta (FKY), dan berbagai kegiatan lainnya.

Niat hati ingin mengitari semua bangunan yang ada di Benteng, namun jam di HP sudah menunjukkan angka 04.13. Kami bergegas meninggalkan benteng. Untuk kedua kalinya ‘pasukan’ terpecah menjadi 2 bagian, Eka memutuskan untuk pulang bersama Vonda, sedangkan saya masih tetap bersama De. Kami berdua akan melanjutkan perjalanan ke Taman Budaya, disana ada opening Pekan Seni Anak.

note: data diambil dari sana dan sini

About Sash

mahasiswa tingkat akhir | reporter | juru ketik | juru potret amatir | pemimpi | penyuka milo hangat, bintang, senja, kunang-kunang View all posts by Sash

2 responses to “4 Jam di Titik Nol Kilometer [Part 2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: