Parangndog: Mission Completed

Apapun yang terjadi saya harus tetap berangkat. Tak peduli hujan badai maupun guruh yang menggelegar. Tujuan saya hanya satu. Menaklukkan tebing Parangndog. Sudah sejak lama saya menginginkan hal ini, dan saya tidak ingin rencana yang telah saya susun sejak lama batal gara-gara hujan. Seorang kawan sempat mengirimkan pesan di YM “Hujan Sash, beneran mau berangkat?” saya hanya tersenyum membaca pesannya dan menjawab dengan satu kata “Yupz”, Ya sudah kalo emang tetep mau berangkat, ati-ati di jalan”. Saya kembali tersenyum, tenang saja bung, saya pasti hati-hati, lagi pula tidak ada yang perlu ditakutkan jika ada pria berbaju hitam di samping saya.

Deretan Tebing Parangndog

Tak berapa lama HP berbunyi, sebuah pesan pendek masuk “Cepet turun. Aku sudah nunggu di bawah. Gak pake lama” Bergegas saya matikan komputer, mengambil tas, serta mengenakan jaket tebal, saatnya memulai perjalanan. Hari itu cuaca memang sedang tidak bersahabat. Hujan turun seharian. Bersama pria berbaju hitam saya memulai perjalanan ke selatan, ke Parangndog. Gerimis kecil tak menyurutkan niat kami. Dan ternyata selatan Jogja cuaca sudah cerah, tidak sekelabu tadi, hujan sudah reda sejak lama. Hanya bau basah yang masih tersisa di sepanjang jalan. Setelah satu jam perjalanan kamipun mulai memasuki daerah Parangtritis. Tebing-tebing Parangndog sudah nampak dari kejauhan. Jalanan mulai terjal dan menanjak. Motor yang kami naiki terlihat berat menanggung beban, saya pun memutuskan untuk turun dan berjalan kaki.

Ini kali pertama saya menjejakkan kaki di Parangndog, sekaligus kali pertama saya akan mencoba Rock Climbing. Selama ini yang saya lakukan hanyalah memanjat wall yang terpasang di kampus. Saya ingin ‘naik kelas’, saya ingin mencoba sesuatu yang baru, saya ingin manjat tebing beneran bukan tebing buatan. Oleh karena itu, saat pria berbaju hitam mengatakan bahwa komunitas MAPALA tempat dia pernah mengabdikan diri menjadi ketua mengadakan diklat dasar dengan materi caving di Goa Ciremei serta climbing di Parangndog sayapun merayunya untuk bisa ikut. Dia pun mengijinkan dengan lebih dulu menceramahi saya “Kalau beneran ingin ikut jangan manja! Ini diklat MAPALA buka retreat PMK, jadi jangan bayangkan kita tidur di tempat yang enak, makan terjamin, dan mendapatkan fasilitas yang menyenangkan. Kalo manja nanti kamu tak suruh pulang”

Menjelang senja kamipun sampai di basecamp, sebuah pendopo terbuka yang atapnya bocor di sana-sini. Teman-teman pria berbaju hitam telah banyak yang berkumpul. Semuanya memakai baju yang hampir sama, seragam MAPALA kebanggaan berwarna hitam dengan slayer biru di leher. Ah andai dulu ibu mengijinkan saya masuk menjadi anggota PA tentunya saya sekarang juga memakai baju tersebut dan terlihat sedikit “gagah” (menurut saya). Namun apa daya, dengan alasan fisik saya yang terlalu lemah maka beliau hanya mengijinkan saya bergabung dengan anak-anak jurnalistik (yang-tidak-memiliki-seragam-sekeren-anak-PA). Namun dasar saya yang bandel, walau tidak diijinkan bergabung menjadi anggota resmi saya tetap menyelundup menjadi ‘anggota-tidak-resmi’.

Kamipun bergabung dengan mereka, berbincang tentang banyak hal, dari hal penting hingga yang tidak penting sama sekali. Seorang kawan tiba-tiba bertanya “Kalian tidak ingin liat sunset dari atas? Keren lho. Kamu belum pernah kan Sash?” saya mengangguk sambil melirik pria berbaju hitam. Untunglah kali ini dia peka dengan apa yang saya inginkan, bahwa saya ingin naik ke atas bukit. Saya ingin tahu, seindah apa menikmati senja dari atas. Kami dan beberapa orang yang ternyata juga memiliki keinginan yang sama pun berjalan menuju bukit, hingga tiba di sebuah tempat yang memang disediakan untuk melihat senja. Uhm,,, saya ralat, sebuah tempat yang biasa digunakan untuk paralayang dan dapat juga dimanfaatkan untuk melihat senja.

Sesampainya di atas saya benar-benar speechless. Memang benar tak semua hal dapat diungkapkan lewat kata. Kali ini hal itu terjadi pada saya, saya tak mampu menerjemahkan pesona senja yang tertangkap lewat mata saya dalam kata. Di sebelah kiri saya terlihat hamparan luat Laut Selatan dengan ombak yang bergulung serta beberapa kapal kecil yang berlayar diatasnya. Bola raksasa dengan semburat cahaya merah, jingga, dan sedikit ungu secara perlahan turun, melewati ambang cakrawala, kemudian menghilang ke dasar lautan. Merahpun berganti dengan pekat. Pemandangan berganti dengan kerlap-kerlip lampu di sepanjang pesisir pantai, dan di atas nampak beberapa bintang yang mulai menampakkan sinarnya. Saya terpesona dan saya jatuh cinta.

Senja Parangndog, Agustus 2006 (hikz kemaren gak bawa kamera, jadi mengeluarkan foto lama saja)

Setelah puas menikmati sunset kamipun kembali ke basecamp. Tepat seperti yang dikatakan oleh pria berbaju hitam sebelumnya bahwa di tempat ini tidak ada fasilitas, baik kamar mandi maupun listrik. Jika ingin ke kamar mandi kami harus turun dan menumpang di rumah salah seorang penduduk. Sedangkan penerangan kami menggunakan lampu badai. Bagaimana dengan makan? Tentu saja mie menjadi andalan. Baru kali ini saya menikmati suasana yang seperti ini, tidak terlalu buruk. Mie telur yang dimasak oleh anak-anak pun terbilang enak.

Menjelang malam para senior MAPALA mulai ‘beraksi’ terhadap anak-anak baru. Saya hanya mengamati dari jauh. Entah prosesi tersebut berlangsung berapa lama, yang jelas saya memutuskan untuk masuk ke dalam sleeping bag yang telah dia siapkan untuk saya. Saya ngantuk, saya ingin tidur. Sekitar pukul 1 saya mendengar suara anak-anak yang ribut, ternyata hujan turun dibarengi dengan angin. Pendopo bocor, bivak yang dibuat oleh anak-anak baru juga bocor. Saya tak ambil pusing, setelah posisi tidur bergeser ke tempat yang sedikit-lebih-aman saya pun melanjutkan mimpi saya. Bukannya saya egois, namun saya terlalu capek dengan berbagai hal yang saya lakukan dalam sepekan ini, dan hujan tak boleh mengganggu jatah istirahat saya.

Sekitar pukul 6 pagi saya terbangun. Suasana sudah sepi. Hanya ada beberapa anak yang sedang memasak. Sebagian besar sudah menuju ke tebing yang akan digunakan untuk memanjat. Saya masih bermalas-malasan. Melipat SB, kemudian turun ke rumah penduduk untuk mandi dan membersihkan diri. Cuaca tidak begitu cerah, namun sedikit bersahabat karena gerimis tidak lagi mengguyur bumi. Setelah sarapan mie instan (lagi), kami (saya, pria berbaju hitam, dan temannya yang saya tidak tahu siapa namanya) berjalan menuju lokasi.

Jalan yang kami lalui masih basah dan licin. Kami harus berhati-hati supaya tidak terpeleset, lagipula dikanan kiri banyak tumbuhan berduri yang bisa menggores kulit. Tak sampai 15 menit berjalan sampailah kami di lokasi. Dimana tebing menjulang, dan anak-anak berkumpul di bawahnya. Kali ini jalur pemanjatan dibuat dua, sebelah kanan dan kiri. Namun, di sisi lain juga terlihat Ovis dan Kamso yang sedang membuka jalur. Saya tidak langsung memanjat, melainkan melihat anak-anak baru terlebih dahulu. Ada yang bisa memanjat dengan lincah, ada pula yang berhenti di tengah. Salah satu dari mereka tergores karang, telapak kakinnya luka cukup lebar, dan darah mengucur deras.

“Gimana? Masih tetep penasaran buat naik? Ntar kalau kenapa-kenapa aku nggak tanggung lho” ahai,,,, rupanya pria berbaju hitam tidak sepenuh hati mengijinkan saya untuk naik. Dia takut jika terjadi sesuatu terhadap saya. Terang saja, soalnya dia bertanggungjawab secara penuh terhadap saya saat ini. Kalau ada apa-apa, dialah orang yang pertamakali akan dicari.

Saya mengangguk mantap. Setelah semua anak-anak baru selesai manjat, kini giliran saya. Dengan sedikit gugup saya memasang harness dan mengencangkan chalk bag. Kemudian setelah kernmantel terpasang dengan sempurna saya berjalan mendekati tebing. “On belay?” seru saya, “Belay on” jawab Ali Amung yang menjadi belayer saya. “Climb Ready”, setapak demi setapak sata mulai memanjat tebing kokoh ini. Ternyata rasanya memang berbeda antara memanjat di wall sama di tebing bebatuan. Jika di wall terdapat banyak point yang memudahkan kita untuk berpegangan atau menjejakkan kaki, maka di tebing kita harus pintar-pintar memanfaatkan celah, ceruk, maupun bebatuan yang menonjol di sana-sini.

Beberapa kali saya sempat berhenti sekedar mengatur nafas, atau melumuri tangan dengan magnesium karena tangan saya sudah basah oleh keringat. Tak jarang saya stuck di satu titik, bingung mencari pijakan maupun pegangan. Untungnya Ali cepat tanggap, dia memandu saya dari bawah. “Sebelah kiri ada celah”, “Kaki kanan naik”, “Sip, great job, sedikit lagi”. Sebentar lagi saya akan mencapai puncak, runner yang tertinggi sudah terlihat dengan jelas, namun saya sudah ngos-ngosan, tangan saya letih mencengkeram, kaki juga susah mencari pijakan. Saya lihat disebelah kanan ada akar pohon yang bisa saya jadikan pegangan. Sayapun menggapai akar tersebut, tiba-tiba terdengar suara dari bawah “Usahakan jangan pegangan pohon Sash, cari celah lain”, pufh, saya tidak jadi memegang akar tersebut. Akhirnya dengan panduan dari bawah sayapun bisa mencapai runner tertinggi. “Ayo kalo berani manjat lebih tinggi dari runner itu” tantang anak-anak di bawah. Dan entah dengan keberanian dari mana saya pun mulai memanjat lagi, lagi, dan lagi hingga mencapai puncak.

Pukul 10.36 saya ‘ngetop’ di salah satu tebing yang ada di Parangndog. Saya melayangkan pandangan kebawah, terlihat pesisir pantai selatan, Parangtritis, Parangkusumo, semua tampak memukau dilihat dari atas. Tak sia-sia usaha saya untuk terus memanjat. Karena semua keletihan itu terbayar lunas disini. Pemandangan yang indah, takkan bisa ditukar dengan apapun. Saya kembali speechless, no words to say. Dalam hati saya memujiNYA “Then sing my soul, my Saviour God to thee, How great Thou art…..”

:: Minggu, 14 November 2009, Mission Completed ::

About Sash

mahasiswa tingkat akhir | reporter | juru ketik | juru potret amatir | pemimpi | penyuka milo hangat, bintang, senja, kunang-kunang View all posts by Sash

3 responses to “Parangndog: Mission Completed

  • DV

    Hmmm tulisan yang sangat menarik, terlebih lagu terakhir yang dinyanyikan…
    Aku bisa membayangkan bagaimana saat posisi on top lalu memujiNya atas segala yang kamu lihat di bawah dan atas kemampuan yang diberikan padamu untuk sampai di atas.

    Aku sering lewat Parang Ndog tapi ya tetap ngga berani ngapa2in.. Banyak teman saya yang anak MAPALA juga dan setiap mereka ngajak gabung aku slalu bilang, “Aku takut ketinggian!” :))

    Ini beneran lho, saya mbaca tulisan ini aja sambil kemringet di tangan dan kaki jhe… serius…

    Tetap teguh dalam iman ya, Sash!

    What?? Mas Donny takut ketinggian? gak salah tuh? hehehe,,,🙂 eh tapi ada juga temen saya yang anak MAPALA takut kalo di suruh manjat, alasannya selalu sama “aku anak GH (Gunung Hutan) jadi gak perlu ikut2an climbing” dasar ngeles.

    Yupz,, bersyukur bisa memiliki kesempatan untuk menikmati agung karya ciptaanNya,,,Dia sungguh luarbiasa…

  • kris tina

    curang!!!!

    ben!! hehehe…..

  • morishige

    keknya saya kenal tuh tebing di parangndog yang ada tumbuhannya..:mrgreen:

    Sash::
    Biasa manjat di situ juga ya? hehehe🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: