Fenomena Dunia Menyempit

Pernahkah Anda mengalami apa yang disebut dengan Fenomena Dunia Kecil? Dalam chicklit “Cintapuccino” Icha Rahmanti menyebutnya sebagai Fenomena Dunia Menyempit. Saya pernah. Bahkan terhitung sering mengalami hal tersebut. Dunia seakan-akan menjadi begitu kecil dan sempit. Sebelum saya cerita lebih jauh lagi tentang hal yang saya alami, ada baiknya saya cerita dulu tentang “Apakah yang dimaksud dengan Fenomena Dunia Kecil?”

Selama ini ketika kita berbicara mengenai jarak, biasanya yang langsung ada dalam pikiran adalah jarak geografis yang diukur berdasarkan hitungan kilometer. Jarak yang memisahkan tempat atau benda di ruang fisik. Namun, bagi para sosiolog ada sebuah konsep jarak di luar ruang fisik yakni jarak sosial. Jarak sosial ini berada di ruang sosial sehingga tidak dihitung berdasarkan kilometer, namun biasanya berdasar pada pemisah non fisik. Misalnya pekerjaan, pendidikan, kebangsaan, dll. Dalam pergaulan seringkali terjadi orang yang secara fisik berdekatan namun memiliki jarak sosial yang sangat jauh, atau sebaliknya, berada di belahan bumi yang berbeda namun memiliki kedekatan.

Contoh nyatanya seperti ini. Saat menjadi mahasiswa baru saya berkenalan dengan seorang cewek yang memiliki nama depan sama dengan saya. Setelah ngobrol ngalur ngidul akhirnya saya tahu bahwa dia berasal dari Bangka (saya dari Wonosobo) dan satu kota dengan sepupu saya. Iseng-iseng saya tanya apakah dia kenal dengan mas sepupu saya itu, dan jawaban yang keluar sungguh di luar dugaan. Ternyata dia kenal sepupu saya bahkan pernah suka dengan mas saya itu (atau malah pernah pacaran ya?). Kamipun cuma tertawa dan mengatakan “wah ternyata dunia sempit sekali yah”. Nah hal seperti inilahyang disebut sebagai Fenomena Dunia Kecil a.k.a small world phenomenon. Kejadian dimana kita menyadari bahwa orang-orang di sekitar kita saling terhubung satu sama lain.

Mengapa dan bagaimananya fenomena dunia kecil bisa terjadi pernah diteliti oleh fisikawan Duncan Watts dan matematikawan Steve Strogatz dari Cornell University pada tahun 1998. Penelitian ini merupakan ‘lanjutan’ dari eksperimen ilmiah pertama yang pernah dilakukan oleh psikolog sosial Stanley Milgram dari Harvard University pada tahun 1967 tentang fenomena dunia kecil dan teori jaringan sosial. Kemudian ada lagi penelitian terbaru yang dilakukan oleh Roby Muhamad, Duncan Watts dan Peter Dodds mengenai masalah tersebut. Hasil akhirnya ternyata sangat mengejutkan. Mereka menemukan fakta bahwa panjang rata-rata rantai pesan untuk mencapai target adalah antara lima dan tujuh. Rantai memiliki panjang rata-rata lima jika pengirim awal dan target berada dalam satu negara, dan rata-rata tujuh jika pengirim awal dan target berada di lain negara.

Itu berarti tiap orang terkoneksi dalam satu jaringan yang sifatnya global dan tidak terikat batas geografis. Secara gampang itu juga bisa diterjemahkan bahwa selang 5 hingga 7 orang dalam (ambil contoh terkecil) satu kota akan saling mengenal. Si anu ternyata sepupuan sama adiknya si ini. Anaknya Pakde Tukiman ternyata mantan pacar adiknya temenku. Mbak Sri ternyata satu SMA dengan teman kantorku. Bayangkan bahwa ternyata orang-orang di sekitar kita saling terkoneksi, saling mengenal satu sama lain. Beugh…. Dunia benar-benar kecil dan sempit.

Kenapa saya tiba-tiba menulis tentang hal ini? Karena kemarin Minggu (29/11) saya baru saja mengalami hal ini (Fenomena Dunia kecil) untuk kesekian kalinya. Dan kemarin boleh dibilang adalah hal yang amat sangat mengejutkan. Jadi ceritanya begini. Saat liputan acara Jogja Java Carnival bulan Oktober lalu, saya ketemu sama mas tukang potret yang cakep abis *tsah*. Saya tidak tahu orang itu siapa dan dia juga tidak tahu saya siapa. Sejak awal liat dia saya sudah bilang ke temen saya “Eh mas yang itu cakep yawk”, teman saya mengiyakan sambil bilang “Dasar, giliran ada cowok cakep aja sinyalnya kuat”🙂

Ntah bagaimana akhirnya mas-mas tersebut mendekati saya dan ngajak ngobrol,  akhirnya saya tahu bahwa dia bukan dari media tertentu tapi fotografer freelance. Saat itu kami tidak saling bertukar nomer hape (boro-boro nomer HP, nama ajah ndak). Hingga akhirnya saya memilih untuk meringsek ke alun-alun utara dan dia tetap bertahan di posisi perempatan kantor pos besar.

Setelah malam itu saya sudah tidak ingat lagi sama mas-mas tukang poto itu. Nah Minggu siang di gereja (saat itu sayang pulang Wonosobo) ada acara pemberkatan nikah salah satu anaknya jemaat gereja yang tinggal di Jakarta. Saat pengantin dan keluarga berjalan masuk gereja saya liat ada satu sosok yang kayaknya saya pernah ketemu. Berhubung saat itu saya satu-satunya cewek yang ikut-ikutan motret, orang tersebut jadi liatin saya. Dari mukanya keliatan banget kalo orang tersebut juga penasaran dan punya pikiran yang sama “Kayaknya kok saya pernah liat cewek ini ya”. Tapi berhubung ibadah segera dimulai rasa penasaran itu ditahan dulu. Kami kembali duduk ke kursi masing-masing.

Selesai ibadah sayapun mengucapkan selamat ke pengantin en keluarga besarnya. Sama mas-mas itu juga salaman. Dia senyum, saya juga. Berhubung saya orangnya gak suka penasaran, setelah acara salaman selesai saya dekati mas-mas itu dan dengan super pedenya nanya

“Mas kayaknya kok aku familiar denganmu ya? Kita pernah ketemu sebelumnya ndak ya?”

“Aku juga ngrasa pernah ketemu mbak, makanya dari tadi aku liatin”

“Masnya fotografer bukan?” tanya saya langsung

“Loh kok tau kalo saya suka motret?” tanyanya heran

“Hehe,, kayaknya kita pernah ketemu pas di Jogja Java Carnival deh”

“Oo,,, mbaknya yang dulu sempat ngobrol sama saya itu ya? Pantesan saya kok merasa wajahnya nggak asing”

Dan akhirnya kami pun ketawa bareng dan ngobrol (walaupun lagi-lagi tidak sempat nanya nama) Bayangkan coba. Saya dan dia bertemu hanya sesaat di acara Jogja Java Carnival di Jogja. Kemudian sekarang kami ketemu lagi di pelosok desa di Kota Wonosobo dalam acara yang sangat tidak terduga. Ternyata masnya itu adalah saudara jauhnya mempelai perempuan yang ibunya adalah teman ibuku di gereja. Dia asalnya kalau ndak Solo ya Bekasi.

Saya cuma geleng-geleng kepala. Takjub. Ternyata orang-orang di luar sana saling berhubungan satu sama lain. Saya juga Jadi sedikit takut. Jangan-jangan saat saya naik transjogja pulang kerja orang yang duduk di sebelah saya tahu bahwa saya pernah suka sama pacarnya yang sekarang. Atau jangan-jangan sopir transjogja adalah pakdenya salah satu teman saya. Sebenarnya selain dua cerita di atas ada banyak lagi fenomena dunia kecil –saya lebih suka menyebutnya dunia menyempit- yang saya alami. Saya sering bertemu dengan orang-orang baru yang ternyata memiliki hubungan dengan orang-orang di masa lalu saya. Saat ngobrol seringkali muncul perbincangan “Lho kok kamu bisa tahu cerita tentang si Anu?” “Lah piye to? Si Anu kan temenan sama mbak Ina, dan Mbak Ina tuh temen dekatnya masku, ya taulah” oalah,,,tenyata dunia itu sempit ya. Apalagi sekarang ditambah muculnya situs jejaring sosial seperti Facebook. Fiuh… tambah sempit saja. Gak hanya facebook, blog juga bikin dunia makin sempit lho🙂

Jujur saya baru tahu bahwa ternyata blog yang sering saya sambangi adalah milik istri pimpinan saya. Haiyah,,, ibu tersebut tidak tahu sih saya karena selama ini saya cuma jadi silent reader. Setelah saya tahu ibu itu istri bos saya, saya jadi semakin bisu, alias tidak pernah komen hehehe. Ada juga blogger yang komen di blog ini ternyata kenal dengan orang yang saya pernah ngefans abis :)  (padahal blogger itu tinggal di kota yang jaraknya ratusan km dari Jogja) jian dunia memang sempit…

Jadi, Anda itu siapanya saya ya????? Hehehehe…..siapa tahu ternyata saya dan Anda hanya terhubung hanya dalam jarak 2 atau 3 orang saja…

Artikel tentang Fenomena Dunia Kecil bisa dibaca di sini

About Sash

mahasiswa tingkat akhir | reporter | juru ketik | juru potret amatir | pemimpi | penyuka milo hangat, bintang, senja, kunang-kunang View all posts by Sash

One response to “Fenomena Dunia Menyempit

  • DV

    Tulisan ini menggugah…
    Aku pernah dengar teori soal jarak antar orang itu hanya 5 – 7 orang lain adalah saat aku pertama kali mengenal Friendster, enam tahun silam.

    Ketika itu dikenal istilah “Related friend” kalo ngga salah yang intinya bahwa ketika aku kenal sama kamu, misalnya, dan lho kok ternyata kamu temannya A dan B serta C yang adalah musuh bebuyutanku.

    Kupikir jaringan social media (termasuk blog) saat ini semakin menguatkan teori itu.

    Ia, yang menciptakan teori itu, layak dianugerahi gelar profesornya profesor :))

    Mas Don dengar teori ini sekitar 6 tahun yang lalu berarti barengan ma Roby Muhamad yang mempublikasikan eksperimen mereka di Jurnal Science edisi 8 Agustus 2003. Aku kenal FS tahun 2004, tapi tetep belum ‘ngeh’ tentang teori ini… Saat ada begitu banyak “fenomena dunia kecil” yang kualami dan baca Cintappucino baru deh tau teori ini.

    Tapi sebenarnya ada satu bagian yang juga menarik dari teori ini yaitu tentang perilaku individu yang berubah menjadi perilaku kolektif (moga ajah lain waktu bisa nulis tentang ini🙂 )

    Ia, yang menciptakan teori itu, layak dianugerahi gelar profesornya profesor” gimana kalo gelar simbahnya professor ajah mas? hehehehe🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: