(PPP) Pesta Para Perupa

Jogja sedang punya hajatan besar. Semua ikut serta. Tak hanya diperuntukkan bagi yang kaya dan tampan, yang miskin dan jelek pun turut serta. Semua boleh datang, semua boleh bersuka. Siapa ya yang menggelar hajatan ini??? Sri Sultankah? Pak Wali Kotakah? Oh bukan, yang sedang punya gawe adalah para seniman, para perupa. Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan akhirnya pesta besar para seniman ini bisa terlaksana. Pesta kali ini bertajuk Biennale Jogja X – 2009: Jogja Jamming, Gerakan Arsip Seni Rupa Jogja.

Setelah digelar selama 9 kali, maka pada kali yang ke 10 ini, Biennale Jogja alias BJ digelar dengan cara yang berbeda. Untuk lebih mendekatkan kepada masyarakat Jogja dan sekitarnya, BJ kali ini tidak hanya di gelar di TBY, melainkan di 4 tempat sekaligus yakni Bank Indonesia, Jogja National Museum, dan Sangkring Art Space. Gelaran BJ X ini diikuti oleh 130 perupa (diantaranya Heri Dono, Djoko Pekik, Nasirun, Edi Hara, dan masih buanyak lagi) yang akan melakukan pameran indoor. Sedangkan sekitar 150 seniman/kelompok (Kelompok Seringgit, kelompok Hitam Manis, dll)  akan merambah ke ruang publik atau istilah kerennya disebut “Public on the Move”.

Program yang digerakkan oleh seniman Samuel Indratama ini semata-mata untuk menjadikan BJ menjadi satu gelaran yang memiliki perspektif berbeda dengan Biennale yang biasa diadakan di kota-kota lain di dunia. Apalagi melihat sejarah sosial dan sejarah kultural Jogja yang sarat dengan nilai-nilai budaya dan tidak sama dengan kota lain di luar negeri. Selain itu, dengan Public on teh Move ini, BJ menawarkan sebuah alternatif visual kota Jogja yang bebas dari kepentingan promosi sebuah produk. Hal ini tentu saja menambah nilai Jogja sebagai kota seni dan budaya.

Oleh karena itu, selama sebulan (11 Des 09 – 10 Jan 10) wajah kota Jogja akan dihias dengan berbagai karya. Ada patung di pinggir jalan, ada instalasi di pusat keramaian, ada mobil toilet umum yang penuh lukisan, gerobak angkringan hias, lukisan di penutup slebor becak, dan masih banyak lagi. Seluruh sudut Kota Jogja berubah menjadi galeri seni.

Pokoknya hajatan kali ini lain daripada yang sama. Unik, menarik, dan juga nyentrik. Anda jangan kaget saat tiba-tiba bertemu dengan sosok yang mengendarai sepeda onthel dengan bath tube yang nangkring di sisi sepedanya. Dia adalah mas Ipo. Yang juga turut serta meramaikan hajatan kali ini. Dia menawarkan relaksasi di atas bath tube sambil digimbal. Jika Anda tertarik mencoba, hentikan saja sepeda yang sedang lewat itu. Sapa mas Ipo baik-baik, dan dengan senang hati mas Ipo akan menggimbal rambut Anda.

Selain mengunjungi 4 titik yang dijadikan sebagai lokasi pameran indoor, tak ada salahnya anda melongok sejenak ke sekretariat BJ. Jangan kaget saat melihat kondisinya yang seperti dapur ataupun warung. Ada setumpuk gula, teh, kopi, ratusan butir telur, indomie, dan berbagai jenis makanan. Apakah ini termasuk dalam salah satu karya yang mereka pertontonkan? Oh bukan. Ini hanyalah tumpukan logistik yang dibawa secara sukarela oleh masing-masing seniman dan komunitasnya.

Di tempat inilah para seniman ngobrol soal apapun hingga larut malam. Kemudian akan muncul koki Rukhyat (seniman grafis) yang menawarkan minuman dan makanan kecil kepada para tamu. Tak lama kemudian pesanan mereka akan diantar. Ditanggung rasanya pas. Di malam-malam tertentu beberapa perupa berinisiatif membawa alat musiknya dan mereka menggelar jam session bersama.

Suasana inilah yang mengingatkan pada kultur agraris Jawa yang mengutamakan kebersamaan, gotong royong, dan guyub. Semuanya ada di BJ kali ini. Seperti keluarga yang sedang punya hajatan, semuanya saling bersatu padu untuk membantu. Inilah kondis kultural yang tidak akan ditemui di tempat lain.

Biennale Jogja tidak hanya menjadi ajang mempertontonkan karya seni rupa, tetapi juga ruang bagi beroperasinya sebuah kultur. Sehingga bukanlah sebuah omong kosong jika Jogja disebut sebagai kota budaya. Sebuah kota yang bergerak dalam pemikiran modern namun tetap tak meninggalkan tradisi. Kota yang tetap mengedepankan persaudaraan, keguyuban, dan kenyamanan. Ah kiranya sungguh tepat jika hajatan besar perupa Jogja kali ini disebut “Biennale Jogja, Cita Rasa Jogja”

About Sash

mahasiswa tingkat akhir | reporter | juru ketik | juru potret amatir | pemimpi | penyuka milo hangat, bintang, senja, kunang-kunang View all posts by Sash

One response to “(PPP) Pesta Para Perupa

  • Prasetya Yudha

    dan sekarang gantian anak – anak kecil yang unjuk gigi..:). bienalle anak2…:)

    Sash::
    yupz bener banget,, kemaren pas opening udah kesana, anak2nya lucu-lucu. Sbenere pengen masuk kota ceria wonderland sih, tapi udah gak pantes ngaku umur 18 tahun hehehe🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: