Testa

Namanya Testa. Bocah lelaki dengan wajah ceria dan belum genap 4 tahun usianya. Sekilas melihatnya, dia tampak biasa saja, tidak berbeda dari bocah-bocah lain seusianya. Namun, ketika melihat dia mulai melangkah saya menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda darinya. Yah, lulutnya tidak bisa menekuk, menjadikan dia sedikit kesulitan saat berjalan.

Saya melihat bocah itu untuk pertama kalinya di awal tahun 2009, saat saya masih bekerja di tempat lama dan sedang berjaga di zona earthquake simulator (simulasi rumah gempa). Dia menghampiri saya sambil tersenyum dan berkata bahwa ingin masuk ke rumah gempa. Saya mengiyakan sambil mempersilahkan Testa naik bersama ibunya. Saat itu saya melihat testa kesulitan menaiki tangga. Saya pun mengulurkan tangan untuk membantunya, namun dia menolak. Sekilas saya melirik ibunya. Wanita muda itu hanya diam di belakang serta menatap anaknya sembari tersenyum. Sedikit keheranan muncul benak. Kenapa ibunya tidak berusaha menolong? Tak berapa lama Testa mampu menaiki tangga itu, meski dia harus merambat. Sesampainya di atas dia pun tertawa girang.

Pertemuan kedua terjadi selang beberapa minggu dari pertemuan pertama. Kala itu saya menjadi pemandu di Zona herritage timur. Testa kembali datang bersama ibunya. Dengan hem lengan pendek berwarna merah, celana pendek, dan vest coklat, dia kembali menghampiri saya sambil memamerkan lesung kecil di pipinya. Hari ini dia tampak lebih ceria dari biasanya. Saya menyambutnya, dan dia pun langsung menggandeng tangan saya serta menarik saya menuju ruang puzzle dan susun balok.

Di tempat itu dia langsung mengambil balok-balok kayu yang berjejer di rak. Dengan tubuhnya yang pendek dia agak kesulitan mengambil balok-balok yang terletak di bagian atas, apalagi di tambah keterbatasan fisik yang ada pada dirinya. Kembali saya melihat hal yang berbeda. Biasanya anak-anak lain yang seusianya pasti akan merengek-rengek minta diambilkan, tapi hal ini tidak berlaku untuknya. Dia ingin melakukan semuanya sendiri, dan menolak ketika saya berusaha menawarkan bantuan. Saat dia bosan bermain pun dia mengembalikan semua balok ke tempat semula. Tanpa dibantu. Bahkan ketika dia akan pulang dia sempat berkata padaku “Terimakasih tante, besok Testa main sini lagi ya,”  saya pun mengangguk sambil tersenyum.

Melihat bocah kecil itu bermain membuat saya tersadar akan satu hal. Terkadang kita menjadi orang yang begitu mudah menyerah dan putus asa. Kita seringkali menyalahkan orang lain, menyalahkan situasi, menyalahkan apapun, dan menjadikannya sebagai alasan atas semuanya. Sedangkan Testa, dalam usianya yang sekecil itu dia tidak menjadi sosok yang manja dan menyerah pada keadaan fisiknya yang tidak sempurna. Dia selalu berusaha melakukan apa yang dia bisa dengan tangannya sendiri, dia memiliki kemauan yang kuat, dia tau apa yang harus dilakukan, walaupun dia juga sadar betul bahwa semua itu tidak mudah baginya. Yah, hari itu saya kembali belajar dari seorang bocah kecil bernama Testa. Bahwa hidup ini memang sulit, namun jangan tunjukkan kerapuhan, melainkan tetap berjuang untuk melakukan yang terbaik.

:: Teringat Testa sepulang melihat Biennale Anak di TBY, ah tiba-tiba saya merindukannya ::

About Sash

mahasiswa tingkat akhir | reporter | juru ketik | juru potret amatir | pemimpi | penyuka milo hangat, bintang, senja, kunang-kunang View all posts by Sash

One response to “Testa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: