Sekar Ganten dan Keberuntungan

Aroma itu semakin lama semakin tajam dan menusuk, dada saya sesak, saya tidak kuat. Saya memutuskan untuk keluar. Di pelataran saya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, dada saya terasa plong. Ternyata dari dulu belum berubah, saya tak pernah tahan dengan aroma dupa. Perlahan saya menjauh dari tempat penyimpanan keris-keris itu. Ponsel saya bergetar pelan, ada pesan masuk. Aku sudah di Keben, kamu dimana? Cepet ke sini.

Duh, ini kali pertama saya berjalan di sekitar Kraton malam-malam. Saya buta arah. Saya bingung. Saya tidak tahu nama dan letak ruangan-ruangan. Keben? Daerah mana itu? Saya mendekati seorang abdi dalam yang sedang duduk di bawah lampu, dengan ramah beliau menunjukkan arah menuju Keben.

“Mbak dari sini lurus ikuti jalan, setelah itu ketemu pertigaan yang ada jamnya, nanti belok kiri, mentok, itu sudah Keben”

“Nuwun pak”

“Sami-sami, ngantos-antos nggih mbak”

Bergegas saya berjalan mengikuti petunjuk abdi dalem itu. Saya tak ingin membiarkan kawan saya menunggu terlalu lama. Ternyata Keben tidak begitu jauh. Dari kejauhan saya melihat sosok yang saya kenal sedang berbincang dengan penjual bunga. Dia melambaikan tangan, saya semakin mempercepat langkah.

“Gimana, jadinya mau nulis apa?” tanya saya setelah dia menyudahi percakapan dengan penjual bunga.

“Nulis tentang ritual udah bosen, paling penjual bunga tadi, tapi masih kurang narasumber nih. Kamu tak jadiin narasumberku aja piye?”

“We lha, yo jangan, yang lain aja lah”

“Yowis nek gitu, aku tak muter-muter sek, pengen nyari orang yang tadi beli bunga” dia pun masuk ke kerumuran dan segera hilang dari pandangan.

Jiah, ni anak, tadi nyuruh cepet-cepet, la kok sekarang malah ninggalin. Saya lihat jam di ponsel menunjukkan angka 22.15 WIB, masih 45 menit lagi sebelum prosesi dimulai. Saya memutuskan untuk menunggunya sambil duduk di bawah pagar, bersebelahan dengan penjual bunga. Sobekan daun pisang berserakan, wangi bunga pun menyebar di sela udara malam. Di sebelah saya seorang penjual bunga sedang menata dagangannya.

Mbah Sadinem Penjual Bunga

Tinimbang cuma duduk diam saya pun mengajak ngobrol ibu tersebut. Dari percakapan singkat, saya tahu penjual bunga itu bernama Mbah Sadinem. Beliau mengaku sejak lulus sekolah waktunya dihabiskan berkutat dengan bunga-bunga. Saban hari dia berjualan bunga di Pasar Ngasem. Namun, tiap kali ritual sekaten dimulai dia menggendong barang dagangannya dan berpindah ke pelataran Bangsal Ponconiti. Setelah prosesi Miyos Gongso usai, dia akan mengemasi barangnya dan bergerak ke pelataran Masjid Agung Kauman, menyusul dua gamelan pusaka kraton – Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Nogo Wilogo – yang selama seminggu di letakkan di Pagongan masjid.

Saya sudah sering melihat orang menjual daun sirih beserta ubo rampe yang digunakan untuk menginang. Namun baru kali ini saya mendapati bahan-bahan untuk menginang itu dibungkus daun pisang berbentuk kerucut. Kata Mbah Sadinem namanya sekar ganten. Terdiri dari daun sirih, injet (kapur), gambir, tembakau, dan bunga melati di atasnya.

“Siapapun yang menginang sambil mendengar bunyi gamelan pusaka keraton, mereka akan awet muda. Katanya ini juga membawa keberuntungan,” terang Mbah Sadinem.

“Mbak mau nyoba?” tanyanya lebih lanjut

“Waduh mboten, nuwun. Tapi ya ndak papa, saya beli satu saja”

Wanita tua itupun tersenyum dan segera membungkuskan satu sekar ganten untuk saya. Bukannya saya percaya dengan mitos awet muda, saya hanya ingin menggenapkan ‘rasa’ dalam mengikuti ritual malam ini, dan sekar ganten lah pelengkapnya. Secara detil mbah Sadinem juga menerangkan bagaimana cara “menikmati sekar ganten”, saya hanya mengangguk dan mengiyakan.

Menjelang pukul 23.00 WIB pelataran Bangsal Ponconiti semakin ramai. Semua bersiap. Prosesi Miyos Gongso akan segera dimulai. Saya berkemas. Memastikan bahwa semua barang telah kembali masuk ke dalam ransel. Setelah menarik ritz jaket hingga leher saya berpamitan dengan Mbah Sadinem. Saya meleburkan diri dalam lautan manusia dan hiruk pikuk malam. Semua berdesak-desakan, berharap mendapat tempat yang di depan. Prajurit bregodo bersiap, pembawa lentera bersiap, pemikul gamelan bersiap, abdi dalem bersiap, juru foto bersiap, penonton bersiap. Pukul 23.00 WIB lebih sedikit rombongan kirab mulai melangkah meninggalkan Bangsal Ponconiti.

Ini kali pertama saya menyaksikan kirab yang berlangsung dalam hening. Bahkan penonton pun turut larut dalam suasana tenang. Mereka berdesak-desakan dalam diam. Barisan pramuka pembawa obor menambah kental nuansa magis yang tercipta. Rupanya dua gamelan pusaka keraton itu membawa pesona tersendiri.

Sekitar pukul 23.40 prosesi ini usai. Prajurit bregodo kembali ke keraton, satu-persatu penonton kembali ke rumah masing-masing. Sayapun segera meninggalkan pelataran Masjid Agung Kauman. Malam semakin larut. Lampu-lampu pasar malam perayaan sekaten sudah padam sejak 1 jam yang lalu. Menuju parkiran saya teringat sekar ganten yang saya beli. Ransel saya buka, sekedar memastikan apakah sekar ganten itu terbawa atau tidak. Rupanya dia masih terbungkus plastik putih. Untung saya tidak lupa membawanya. Namun entah kenapa saya merasa ada janggal. Sekali lagi saya buka tas saya. Tiba-tiba saya tersadar, dompet saya sudah tidak ada lagi di tempatnya…

About Sash

mahasiswa tingkat akhir | reporter | juru ketik | juru potret amatir | pemimpi | penyuka milo hangat, bintang, senja, kunang-kunang View all posts by Sash

2 responses to “Sekar Ganten dan Keberuntungan

  • NaNa

    ummmm akhirnya aku tw bunga yg dijual simbah2 di sekaten itu sekar ganten
    terima kasih infonya jeng.
    sayangnya setelah membeli sekar ganten kamu blm mendapat keberuntungan malah kehilangan dompet eiger tercintamu
    semoga setelah itu keberuntungan itu benar-benar hadir dan ada bersamamu.

  • mawi wijna

    Turut berduka atas hilangnya dompet. Apa itu sebab tak mengunyah Ganten?😀

    Sash::
    Uhm,, entahlah,, tapi saya tidak percaya itu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: