Untukmu Para Perempuan

Untuk beberapa kasus, keterlambatan satu hari rasanya masih bisa dimaafkan. Tentu saja ini tidak berlaku bagi keterlambatan jadwal penerbangan maupun keberangkatan kereta api😀. Jadi kali ini (meski terlambat satu hari) saya ingin mengucapkan selamat kepada seluruh perempuan di dunia. Tepat tanggal 8 Maret 2010 kemarin telah diperingati Seratus tahun perayaan perempuan internasional. Jadi kemarin adalah harinya saya, harinya para perempun.

gambar diambil dari sini

Berhubung saya bukan aktivis perempuan, saya tidak ikut aksi-aksi yang diadakan oleh aliansi maupun organisasi massa yang berteriak dijalanan guna menuntut kesetaraan dan keadilan bagi kaum perempuan. Bukannya saya skeptis, tapi saya rasa masih bayak hal-hal di dalam diri saya sendiri yang perlu saya benahi sebelum akhirnya saya menyuarakan suara-suara perempuan lain.

Gimana saya mau berteriak-teriak minta keadilan dan kesetaraan, wong saya saja terkadang jika diperlakukan setara dengan kaum pria saya ndak mau. Mau bukti? Sejak pertengahan tahun lalu saya bekerja di pabrik kata-kata yang pegawainya pria semua. Hanya ada dua wanita cantik sekali di pabrik ini, yakni saya dan Public Relation-nya. Itupun kami tidak menempati kantor yang sama. Jadi di kantor saya, otomatis saya menjadi yang paling cantik😀.

Pabrik kami sering kedatangan tamu dari luarkota hingga luar negeri. Berbagai pertemuan, workshop, dan diskusi juga seringkali diadakan. Nah sebelum acara dimulai biasanya ada kegiatan angkat junjung meja kursi dan barang-barang berat lainnya. Kalo saya mau setara, seharusnya saya juga ikut-ikutan angkut-angkut barang. Tapi saya selalu mengelak. Saya kan perempuan! Jadi saya cuma duduk manis di pojokan, atau mengangkat yang ringan-ringan saja. Ini sudah satu bukti bahwa saya tidak mau setara.

Kadang saya sedikit heran dengan perempuan-perempuan jaman sekarang yang selalu berteriak lantang minta kesetaraan. Saya pikir dari dulu derajat perempuan dan laki-laki sudah setara. Bagi saya masalah perempuan bekerja di ranah domestik dan pria di ranah publik itu bukanlah bentuk ‘ketidaksetaraan’. Ada hal-hal tertentu yang memang lebih baik dan lebih bagus hasilnya jika dilakukan oleh wanita dan ada banyak hal-hal tertentu yang lebih baik dilakukan oleh pria.

Bekerja di wilayah domestik pun sejatinya menuntut kecakapan tersendiri, dan perempuan dianggap mampu melakukan semua itu. Tapi pada perkembangannya perempuan merasa tidak puas sehingga mereka menuntut lebih. Mereka ingin ‘melebarkan sayap’ dengan bekerja di ranah publik. Sebenarnya ini merupakan hal yang bagus. Tapi apakah ketika mereka sudah di wilayah publik pekerjaan rumah mereka tetap dapat berjalan dengan baik?

Saya bukanlah perempuan yang anti dengan wanita karir. Saya sendiri juga bekerja di luar wilayah domestik, saya ingin eksis di ranah publik. Tapi terkadang saya melupakan kodrat saya. Terlalu asyik melakukan pekerjaan di luar membuat saya malas melakukan pekerjaan rumah. Kamar saya berantakan, cucian menumpuk, debu menempel di sudut-sudut kaca, setrikaan menggunung. Berhubung saat ini saya masih hidup sendiri tentu saja hal-hal seperti itu masih bisa dimaafkan. Namun ketika nantinya saya sudah menikah saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada keluarga saya.

Jangan sampai saat sudah berkeluarga nanti saya menjadi terlalu sombong untuk melakukan pekerjaan rumah dan lebih memilih bekerja di luar rumah dengan alasan kesetaraan. Jangan sampai saya menjadi orang yang terlalu banyak menuntut namun tidak konsekuen dengan apa yang menjadi tuntutan saya.

Akhirnya sekali lagi saya mau bilang, Selamat Hari Perempuan Internasional yang ke-seratus. Selamat memperjuangakan apa yang kalian pikir pantas untuk diperjuangkan. Maaf jika mungkin perjuangan kita tidak sama. Setidaknya saya tetap berjuang di jalan saya dan dengan cara saya sendiri.

Note: Buat yang bingung dengan inti dari tulisan ini saya minta maaf. Wong saya sendiri saja sebenarnya juga bingung. Tulisan ini bukanlah bermaksud menyinggung siapapun,  saya juga mun waton suloyo kok:mrgreen:.

About Sash

mahasiswa tingkat akhir | reporter | juru ketik | juru potret amatir | pemimpi | penyuka milo hangat, bintang, senja, kunang-kunang View all posts by Sash

5 responses to “Untukmu Para Perempuan

  • natty

    kalo aku pengin jd wanita karier sekaligus bisa ngurus rumah tangga dengan baik lah Sha…
    masih mau jg kok ngerjain kerjaan rumah🙂
    nggak berantakan banget2 lah😀

    Sash::
    Aku juga penginnya gitu kak, menyeimbangkan semuanya, tadpi kadang dalam kenyataannya susah.

  • violen

    hehehe …
    dari dulu loe emang jagonya bikin “catatan kecil” tapi mengena…

    mb setuju bgt sama pendapatmu, dek … di pihak lain para perempuan berteriak lantang minta kesetaraan, tapi di pihak lain juga msh banyak perempuan yg rela ‘diberdayakan’ lelaki’ …
    contoh kasus rekan kerja mb sendiri yg rela ninggalin murid2nya hanya demi menjahit seragam suaminya yg robek kecantol paku di kantor … meskipun jarak sekolah-kantor hanya 15 menit … tp buat mb sha itu sudah keterlaluan …

    kapan lagi rekan kerja gue ini ijin (meninggalkan murid2 lagi-red.) hanya untuk ngambilin seragam olahraga suaminya yg tertinggal di rumah … jarak rumah-sekolah-kantor suaminya (PP) tuh 2 jam …

    hhiieeeekkkkssss … istri sih istri tapi kalo sang istri pada akhirnya diperbolehkan untuk berkarir ya please dehh, biarkan dedikasi sang istri itu ada di kantornya,dan bukannya diganggu dengan hal2 sepele seperti salah kostum ato jahit menjahit …

    hehe .. yg keterlaluan tuh istrinya ato suaminya yakk sebenarnya ….

    Sash:
    Wah ini komen terpanjang yang pernah aku terima mbak hehehe. Kalo menurutku kasus temennya mbak itu mah udah kebangetan. Kok ya dia mau ya? mungkin dia emang tipikali cewek yang amat sangat tunduk dan patuh pada suami. Kalo aku mah ogah😀
    Kalo menurutku sih yang paling tepat ya saling melengkapi, bukan saling mendominasi.

  • debumalam

    Sepertinya jadi perempuan rumit juga ya? Perempuan punya kodrat sebagai “perempuan”. Tapi sekalinya menjalankan kodratnya, perempuan merasa “tertindas” dan menuntut adanya kesetaraan. Harusnya ada semacam SOP. Kesetaraan seperti apa dan bagaimana kira2 prosedur pelaksanaannya di lapangan. Dicoba dulu 1 – 2 bulan, kalau berhasil baru dibuat kesepakatan dan jadikan itu standar “Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki”…

    Hehe..

    Kalau masalah kodrat juga kayaknya dibuat SOP juga. Kodrat wanita sekarang ini kayaknya sudah harus diubah deh.Contohnya kayak menjahit. Ada baiknya lelaki juga mempelajari menjahit agar bukan cuma wanita aja yang bisa. Kalau kejadiannya kayak yang diceritakan mbak Violen, kayak manacoba?Repot kan?HoHo…Sekian.

    Sash::
    Thx buat commentnya,, menambahi content tulisan ini (halah) hehehe btw kok komenmu ketangkep si aki ya?? duh jan…

  • Mas Ben

    Betul betul betul, emansipasi yang dimaksudkan Ibu Kita Kartini ini adalah kesetaraan dalam beride dan berpendapat di dalam keluarga antara suami dan isteri. Sesuatu hal yang sebelumnya tidak ada, karena wanita harus tunduk buta kepada suaminya. Jadi para isteri dan Ibu harus berbangga bahwa dari tangan merekalah 90% kualitas harmonisasi sebuah keluarga yang terberkati, terjadi🙂

    Salam bentoelisan
    Mas Ben

    Sash::
    Wah mas Ben mampir di gubug saya🙂 *senyum-senyum girang*
    Akhirnya ada comment dari pria juga….

  • ecka

    sebuah keluhan yang dialami hampir semua perempuan indonesia….

    so kembali ke pilihan masing2, status lajang atapun menikah bukan alasan untuk menegasikan keduanya, proporsional aja n lakukan dengan kenyamanan bukan karena saya adalah perempuan

    Sash::
    Wah ada dedengkotnya Gender Institute nih hehehehe. Ya aku suka kata-kata mbak Eka “Lakukan dengan kenyamanan bukan karena saya adalah perempuan”..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: