Mereka Adalah Malaikat yang Tuhan Kirim…

“Citra adalah malaikat yang Tuhan kirimkan dalam keluarga kami, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak bersyukur atas kehadirannya”

Lebih kurang kalimat seperti itulah yang semalam keluar dari bibir Choky Sitohang saat ditanya oleh Rosiana Silalahi tentang kondisi adiknya – Citra, yang mengalami down syndrome. Saya kaget mengetahui fakta bahwa salah satu adik Choky (presenter yang cakep ituh, yang keren ituh, yang low profile ituh) menderita down syndrome. Kemudian kekagetan saya tergantikan dengan rasa kagum saat dia tanpa malu-malu menceritakan kondisi adiknya dan tetap bisa bersyukur atas keberadaan adiknya.

Ingatan saya tiba-tiba melayang ke masa 12 tahun yang lalu, saat dimana ibu melahirkan adik saya yang pertama sekaligus yang terakhir. Saat itu saya berusia 10 tahun dan duduk di kelas 6 SD. Adik saya lahir malam hari, dan saat itu saya tidak sempat terjaga untuk melihat proses kelahirannya. Padahal sejak siang saya sudah setia menemani ibu di klinik bersalin. Pagi hari ketika saya bangun ayah saya bilang “Adikmu sudah lahir, cewek, kamu mau lihat ndak?” saya hanya mengangguk. Kemudian setelah cuci muka dan gosok gigi saya diajak ayah ke klinik.

Sepanjang perjalanan saya hanya diam, dan tiba-tiba ayah bilang “Nanti kalau lihat adik jangan kaget ya? Pokoknya seperti apapun dia, dia itu adikmu, jadi kamu harus sayang sama dia”. Saya yang masih separuh sadar dari tidur hanya menganggukkan kepala tanpa tahu apa yang dimaksudkan oleh ayah saya.

Akhirnya kami tiba di klinik, di sana ibu saya masih terbaring dengan lemah dan adik bayi ada di sisinya. Saya pun melihat adik saya yang masih merah dan ibu bilang kalau adik dilahirkan dengan sedikit cacat fisik di kaki kanannya. Dan saat saya lihat memang benar, kaki adik saya yang sebelah kanan tidak seperti bayi-bayi normal pada umumnya, namun membengkok ke arah dalam.

Tiba-tiba saya menjadi begitu sedih dan kecewa. Ada perasaan marah sama Tuhan yang membuat saya selalu bertanya “Kenapa sih Tuhan kasih adik cacat?”. Hal itu berlangsung terus menerus hingga saya masuk SMP. Memang saya tidak memperlihatkan kekecewaan saya secara terang-terangan, namun dalam hati ada sedikit kebencian terhadap adik saya. Saya sering merasa malu saat banyak orang bertanya-tanya tentang adik saya.

Kemudian saat berusia setahun dilakukan operasi tulang terhadap adik saya. Telapak kakinya dikembalikan ke posisi yang semestinya. Operasi itu boleh dibilang berhasil. Walau begitu pertumbuhan kaki kanan adik saya sempurna, sehingga kaki kanan terlihat lebih kecil dibanding kaki kiri. Hal itu menyebabkan saya malas mengajak adik pergi kemanapun, dan saya lebih dekat dengan adik-adik sepupu saya.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia saya, secara perlahan saya mulai bisa menerima hal tersebut. Bahwa bagaimanapun kondisinya, Tyas adalah anugerah yang telah Tuhan berikan kepada keluarga kami, dan saya harus bersyukur untuk keberadaannya. Dia adalah adik saya, dan saya harus menyayanginya dengan sepenuh hati. Tidak seharusnya saya mengabaikannya atau membencinya, hanya karena kondisi fisiknya yang tidak sempurna. Kalau boleh minta, tentunya Tyas pun tak ingin terlahir dengan fisik seperti itu.

Kembali ke bagian awal tentang Choky yang tidak malu mengakui keberadaan adiknya. Melihat acara itu tiba-tiba saya merasa tertampar. Yah, seorang Choky yang memiliki ‘nama besar’ saja tidak malu mengakui bahwa adiknya seorang penyandang down syndrome kenapa saya harus malu mengakui keberadaan adik saya yang notabene hanya mengalami ‘cacat kecil’? Sekarang boleh dibilang adik saya sudah seperti anak-anak normal lainnya, bahkan dia memiliki kecerdasan di atas rata-rata temannya. Jadi untuk apa saya malu?

Seharusnya saya bersyukur sejak dulu atas keberadaannya. Karena adik saya, keluarga kami jadi belajar tentang banyak hal terkhusus tentang berserah sepenuh kepada Tuhan. Ternyata intinya hanya satu, bersyukur. Ya bersyukur dengan sepenuh hati atas semua yang terjadi. Baik atau buruk, semua wajib disyukuri. Tiba-tiba saya jadi teringat sepenggal lagu yang selalu mampu menguatkan saya, meski saya tidak selalu mampu melakukan tepat seperti lirik lagu itu.

“Semua yang terjadi di dalam hidupku, ajarku menyadari Kau slalu sertaku, bri hatiku slalu bersyukur padaMu, karna rencanaMu indah bagiku”

About Sash

mahasiswa tingkat akhir | reporter | juru ketik | juru potret amatir | pemimpi | penyuka milo hangat, bintang, senja, kunang-kunang View all posts by Sash

2 responses to “Mereka Adalah Malaikat yang Tuhan Kirim…

  • ecka

    hmm nonton juga acara Rossy, syukur kalo ada yang terinspirasi pascanonton acara itu, ehem tapi bukan karena choky kan kamu jadi punya pikiran berubah seperti tulisanmu hehe….

    ga ada anak yang punya keterbatasan, bagaimanapun keadaaan mereka, yang membatasi justru lingkungan sekitar kita😉

    Sash::
    Bukan lah mbak,, aku udah mulai berubah sejak awal-awal kuliah kok,, cuma kemarin jadi keinget aja, trus ngerasa malu kenapa dulu sempat punya pemikiran kaya gitu🙂

    Hubunganku sama Tyas sekarang juga deket kok, apalagi dia sekarang juga udah mulai remaja, jadinya ya banyak cerita-cerita. Tapi berhubung jarang ketemu dan jarak usia yang terpaut 10 tahun tetep nggak bisa dueket banget lah…

  • Mas Ben

    Titip salam hangat dari bentoelisan buat Tyas ya Mbak🙂

    Salam bentoelisan
    Mas Ben

    Sash::
    Iya mas, nanti kalau saya pas pulang kampung tak sampaikan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: