Perempuan Penjual Bunga

Mbah Sadinem, perempuan penjual bunga

Tak sengaja saya bertemu dengannya pada suatu malam menjelang pergantian hari. Dia, perempuan paruh baya yang tengah sibuk menata barang dagangannya. Mbah Sadinem, begitu dia biasa dipanggil. Menghabiskan hari-harinya dengan bunga-bunga semenjak lulus SD hingga kini sudah berusia lebih dari setengah abad. Setiap hari ia memetik bunga-bunga yang ada di halaman rumahnya di daerah Bantul, kemudian membawanya ke Pasar Ngasem.

Berpuluh-puluh tahun menggantungkan hidup pada bunga-bunga tentu saja tak mampu membuatnya kaya. Namun, dia tak pernah mengeluh. Wangi bunga mampu meredamkan semua rasa yang bergejolak di dada. Sekali waktu sempat dia menyesal karena telah memilih untuk menjadi penjual bunga di usianya yang dini tinimbang melanjutkan sekolah. Apalagi saat melihat teman-temannya di kala SD menjadi orang-orang yang sukses. “Tapi saya percaya bahwa ini memang jalan yang harus saya lewati. Saya tidak boleh menyesal dan mengeluh,” ujarnya.

Dari bunga-bunga itu dia mampu menyekolahkan anaknya hingga lulus SMA, dan kini semua anaknya telah berkeluarga. Lantas saya tanya kenapa dia tidak berhenti saja menjadi penjual bunga, bukankah sudah tidak ada lagi tanggungan dan dia bisa tinggal dengan salah satu anaknya. Ia hanya tersenyum dan menjawab “Selama tubuh masih kuat, pantang bagi saya buat nganggur”.

Baginya menjual bunga tidak hanya tentang mengumpulkan rupiah demi rupiah. Tapi ada kedamaian yang dia rasakan saat bisa menjual dagangan bagi orang-orang yang memang memerlukan bunga-bunga tersebut untuk nyekar maupun untuk melakukan ritual. “Jualan bunga memang tidak bisa membuat saya kaya mbak, tapi bagi saya yang penting cukup, halal, dan mendatangkan ketenangan batin”.

Malam itu tiba-tiba perkataan seorang kawan melintas di benak saya. Perempuan hebat itu adalah perempuan yang tau apa yang harus dia lakukan, bisa memilih, serta bertanggungjawab terhadap apa yang sudah menjadi pilihannya. Dia bisa menginspirasi banyak orang, tidak hanya melalui perkataannya, melainkan lewat tingkahnya yang nyata.

Sesaat saya terdiam, hingga kemudian tersadar bahwa ada perempuan hebat di dekat saya. Perempuan yang memutuskan untuk menjadi penjual kembang demi menyekolahkan anak-anaknya. perempuan yang tak pernah berhenti bekeerja walau usia sudah beranjak menua. Dulu, perempuan itu pernah menyesal dengan pilihannya, namun dia tetap bertanggungjawab dengan keputusannya dan bukannya menyalahkan orang lain. Dan perempuan hebat itu telah memberikan pelajaran tentang hidup terhadap saya. Ya, Mbah Sadinem penjual bunga, dialah perempuan hebat itu.

About Sash

mahasiswa tingkat akhir | reporter | juru ketik | juru potret amatir | pemimpi | penyuka milo hangat, bintang, senja, kunang-kunang View all posts by Sash

3 responses to “Perempuan Penjual Bunga

  • bunga malaysia

    menghantar buga 1 malyasia…….

  • bunga malaysia

    menghatar bunga kepada tersyang…

  • ecka

    Jadi ingat sha, pernah liputan Ibu penjual jajan pasar, kurang lebih ceritanya sama dengan apa yang kamu ceritakan.

    Ibu Margoutomo (79) namanya, sudah berjualan selama separuh lebih hidupnya di Pasar Kranggan. Setia menjual ‘uba rampe’ yang sama: jajan pasar berupa wajik.

    Hmm terbayang tidak sha, jika kita ada di posisi ibu itu, bisakah kita bertahan? sementara dengan pekerjaan dan aktivitas yang selama ini kita jalani saja selalu tidak pernah bisa kita reguk kepuasannya. Selalu ingin ini jadi ini maunya begitu etc.

    Sash::
    Itu yang selalu ada dalam benakku mbak “Saat aku udah jadi ibu-ibu kelak, apakah aku bakalan bisa sekuat dan sehebat mereka dalam menjalani hidup”..

    Tanpa kita sadari justru dari orang2 seperti merekalah kita banyak belajar ya mbak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: