Tentang Rokok

“Mbak, si Zia itu ngrokok ya?” tanya Lena padaku di suatu malam sepulang kami nongkrong.

“Iyupz, kenapa Len?”

“Ya ndak papa sih. Tadi dia habis berbatang-batang lho. Kok dia ndak canggung ya ngrokok di depan orang banyak, gak takut imagenya jadi jelek pa ya?” tanyanya dengan air muka heran. “Kan dia cewek,” lanjutnya.

“Trus kenapa kalo cewek?” tanyaku.

“Uhm,,, ya gimana ya, buatku cewek ngrokok tuh konotasinya negatif je,” ujarnya.

Gara-gara sebuah benda mungil bernama rokok, perbincangan kami meluas hingga menghabiskan waktu berjam-jam. Lena mengungkapkan banyak hal tentang kegelisahannya terhadap fenomena ‘cewek merokok’ yang semakin marak akhir-akhir ini. Dulu cewek masih malu-malu untuk merokok di hadapan public, tapi kini? Di mall, di café, di kampus, di manapun, akan dijumpai dengan mudah seorang cewek sedang menyelipkan rokok di bibir maupun di sela-sela jemarinya.

Lena bertanya, apa sih nikmatnya merokok itu? Saya cuma nyengir. La wong saya juga bukan perokok, mantan perokok juga bukan. Tapi berhubung dulu saya pernah ngicipin benda mungil itu barang sekali, duakali, tigakali, hingga berkali-kali (jiaaaaaaaaaaaah, sama aja…) saya coba jawab pertanyaan Lena.

“Buat saya ngrokok itu gak nikmat dek. La wong cuma asap sama racun aja kok.”

“Lah terus kenapa dulu mbak pernah coba-coba ngrokok?”

“Lagi stress”

“Terus kenapa kalo stress ngrokok?”

“Uhm,, la bingung mau ngapain. Lagian ngrokok saat stress tuh kelihatan keren je”

“Jadi intinya cuma biar keliatan keren aja to mbak?”

Jeduar… pertanyaan terakhir Lena membuat saya jadi mikir. Iya bener juga, dulu saat saya ngrokok saya merasa menjadi keren. Soalnya temen-temen saya gitu. Saat mereka lagi dikejar deadline tulisan, tugas kuliah menumpuk, apa lagi ada masalah pasti buntut-buntutnya pada ngrokok. Katanya ngrokok bisa nenangin. Ah nggak juga menurut saya. Nenangin atau ndaknya kan sugesti, itu pikiran yang bisa dikendalikan. Nah karena melihat temen-temen ngrokok saya jadi pengen, jadi coba-coba. Untungnya saya ndak ketagihan.

“Iya sih dek. Kalo aku lihatnya sih sebagian besar orang awalnya ngrokok karena pengen terlihat keren dan gaul. Masak cowok nggak ngrokok. Gitu kan stereotype yang keluar saat melihat ada anak SMA yang gak ngrokok. Di usia-usia labil gitu kan mereka biasanya gampang banget ngikut arus. Melakukan sesuatu cuma buat gaya-gayaan, gak tau esensi dari apa yang dilakukan. Dulu aku pun gitu”

“Kalo mbak sendiri mandang orang ngrokok gimana?”

“Hmmm,,, kalo aku biasa ajah sih. Mereka mau ngrokok, mau enggak, mau jungkir balik, mau koprol, mau nungging,  itu kan hak mereka. Aku nggak bisa nglarang. Tapi meski itu hak mereka seharusnya mereka sadar diri. Tau tempat dan waktu. Jangan sekali ngrokok di depan ibu hamil apa ibu bawa bayi. Kan kasihan tuh. Jangan juga ngrokok di dalam kendaraan, apalagi saat hujan, kasihan sama orang-orang yang duduk di dekatnya lah”

“Kalo cewek ngrokok?”

“Kan udah aku bilang, itu hak mereka. Iya dulu aku emang pernah berpikiran negatif tentang cewek merokok sih. Tapi seiring berjalannya waktu udah nggak. Buatku itu semua pilihan hidup sih. Cuma aku emang agak gimana gitu ketika melihat mereka melakukan sesuatu tanpa tau esensi dari apa yang mereka lakukan. Cuma anut grubyug aja biar terlihat keren en gaul. Kalo itu mah enggak banget.”

“Jadi itu alasan mbak enggak ngrokok?”

“Iyapz, karena aku nggak mendapatkan sesuatu dari aktivitas ngrokok itu. Aku nggak ngerti esensinya. Beda kalo ngeblog. Aku bisa senang-senang hehehe. Aku belajar buat memahami apapun yang aku lakukan. Karena aku nggak mau seperti robot yang bisa melakukan apapun tapi dia sendiri tidak paham tentang apa yang dia lakukan.”

“Hmmm,,, gitu ya mbak. Terus kenapa kok mbak ngelarang cowok mbak ngrokok? Katanya itu hak prerogative masing-masing orang. Kok mbak plin-plan?”

“hahahaha, asyem, skak mat aku. Udah ah nggak usah dibahas.. tanya sendiri aja sana sama yang bersangkutan…”

“welha, kok ngono? Huuuuuu dasar. Pantesan aja anak-anak ngledekin pacaran mbak cinta tak berasap!”

“hahahahah,,, wuasyeeeeeeem,,, asyem koe Len”

:: Percakapan absud di suatu hari tentang fenomena merokok yang merebak belakangan ini, tentang kenapa saya tidak merokok, dan tentang kenapa saya tidak suka jika pacar saya ngerokok ::

About Sash

mahasiswa tingkat akhir | reporter | juru ketik | juru potret amatir | pemimpi | penyuka milo hangat, bintang, senja, kunang-kunang View all posts by Sash

2 responses to “Tentang Rokok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: