Museum Kekayon, Kehidupan yang Terlupakan

Museum Wayang Kekayon (Sash' pic)

Ini kali kedua saya bertemu dengannya. Saat pertama bertemu dia tidak mengijinkan saya masuk. “Ini sudah jam 2 mbak, sudah tutup. Kalau mau datang besok pagi saja jam 9,” katanya. Dengan sedikit masygul saya mengiyakan dan pulang tanpa mendapatkan hasil apapun. Tapi pertemuan kedua ini dia menyambut saya dengan senyum yang merekah. “Selamat datang, mari silahkan masuk. Mbak datang dari mana ya?” tanyanya. Saya hanya tersenyum simpul. Rupanya ia sudah lupa dengan saya. Setelah saya memberi sedikit penjelasan, lelaki paruh baya itu tersenyum semakin lebar. “Ingatan saya sudah tidak sekuat dulu,” terangnya.

Ia pun mengantarkan saya hingga ke pintu masuk. “Silahkan kalau mau lihat-lihat. Saya tinggal nyapu halaman. Nanti kalau ada yang kurang jelas tanyakan saja,” ujarnya. Saya pun hanya mengangguk. Selepas Ia pergi saya mulai memasuki ruangan demi ruangan yang ada di Museum Wayang Kekayon, tempat di mana wayang-wayang disimpan. Ada begitu banyak wayang di sini, mulai dari wayang purwa, wayang beber, wayang kancil, wayang sadat, wayang golek, hingga wayang suket. Belum  lagi wayang yang tidak sempat terekam dalam memori otak saya.

Museum Wayang Kekayon merupakan salah satu museum yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, didirikan atas inisiatif Prof. Dr. dr. KRT. Soejono Parwirohusodo, seorang dokter spesialis kesehatan jiwa. Museum ini didirikan dengan harapan agar generasi muda lebih mengetahui dan memahami kebudayaan adiluhung bangsa. Museum yang dibuat dengan khasanah arsitektur tradisional Jawa berbentuk Joglo ini, menempati 9 unit bangunan dengan luas tanah sekitar 1,1 hektar di tepi Jalan Raya Yogyakarta – Wonosari, km 7.

Koleksi Wayang (sash' pic)

Seusai mengambil gambar dan mencatat data yang saya perlukan, saya mendekati Mbah Mul, begitu dia akrab disapa. Mbah Mul yang sedang menyapu pelataran yang luas pun meninggalkan pekerjaannya dan kembali menemui saya. Seolah mengerti apa yang ada dalam benak saya Ia pun bertanya, “Pripun mbak? Ada yang bisa saya bantu?”. Saya mengiyakan, “Kenapa museum ini namanya Kekayon mbah?” tanya saya.

“Kekayon itu berarti kehidupan” katanya. Kekayon atau Kayon atau Gunungan merupakan lambang kehidupan di dunia. Oleh karena itu, kenapa pertunjukan wayang selalu dibuka dengan munculnya Kekayon. “Dalam Kekayon terdapat beberapa gambar yang masing-masing memiliki arti tersendiri. Gambar harimau dan banteng melambangkan hawa nafsu yang dimiliki oleh manusia di bumi. Sedangkan pohon yang bercabang empat menjelaskan bahwa ada empat elemen penting di dunia yaitu tanah, air, angin, dan api. Itu juga bisa berarti empat mata angin. Sedangkan pohonnya yang terak lurus melambangkan hubungan manusia dengan sang Pencipta. Gambar pohon yang ada pada Kekayon biasanya dibelit seekor ular yang kepalanya menghadap ke arah kanan. Hal ini berarti bahwa untuk mencapai kebahagiaan, manusia harus melewati jalan yang berliku-liku serta melakukan hal yang halal” terangnya panjang lebar.

Lebih lanjut Mbah Mul bercerita bahwa dulunya Museum Wayang Kekayon sempat mengalami masa kejayaan. Masa dimana museum ini menjadi salah satu destinasi wisata favorit dan selalu penuh dengan pengunjung. Tiap hari selalu ada wisatawan yang berkunjung ke museum ini, perorangan maupun rombongan. Mereka ingin mnegetahui tentang seluk beluk dunia perwayangan. Namun seiring berjalannya waktu museum ini mengalami kemunduran. Wisatwan mulai jarang berkunjung. Apalagi setelah gempa melanda Jogja dan merusak beberapa bagian dari bangunan ini. Museum Wayang Kekayon semakin sepi.

Tak ada lagi suara riuh pengunjung di gedung-gedung museum. Tak ada lagi suara anak-anak yang dengan atusias mendengarkan penjelasan dari tour guide atau berebutan mengajukan pertanyaan. Yang ada hanyalah suara burung dan kemerisik daun-daun kering yang tertiup angin. Pengunjung yang datang hanya satu dua. Museum menjadi terbengkalai. Akhirnya paradigma lawas tentang museum sebagai tempat disimpannya benda-benda usang benar-benar terwujud di tempat ini. Satu hal yang kontradiktif dengan himbauan Menbudpar tentang gerakan revitalisasi museum, menjadikan museum sebagai destinasi wisata utama.

Dalam pemandangan saya pribadi Museum Wayang Kakayon merupakan aset yang sangat berharga. Di museum ini kita dapat belajar tentang dunia perwayangan dan sejarahnya. Selain koleksi wayangnya yang relatif lengkap, salah satu keistimewaan Museum Wayang Kekayon lainnya adalah sejumlah replika dan bangunan yang menguraikan sejarah Indonesia sejak zaman purba hingga proklamasi kemerdekaan. Termasuk juga sejarah kesenian wayang dari abad 6 hingga 20. Ada berbagai replika bangunan yang menggambarkan tentang perjalanan sejarah tersebut. Mulai dari Deorama manusia purba (yang sayangnya sudah hancur), patung singa borobudur, kompleks menara air dengan atap berbantuk candi, replika menara kudus, kompleks pancuran bidadari, kompleks Baleranu Mangkubumi, patung Jepang, dan patung Proklamasi yang melambangkan babak sejarah Indonesia sebelum masa kemerdekaan.

Sungguh amat disayangkan jika museum yang berpotensi besar menjadi wahana pendidikan sekaligus pusat preservasi kebudayaan ini nantinya akan terlupakan begitu saja. Tertutup oleh rumput-ruput liat yang semakin meninggi. Semoga itu tidak terjadi. Semoga ada orang-orang yang memiliki daya dan dana terpanggil untuk mengembalikan kejayaan Museum Wayang Kekayon. Sehingga nantinya museum ini dapat menjadi salah satu kebanggan bangsa Indonesia. Dan tak ada lagi ucapan “dulu museum ini pernah mengalami masa kejayaan dan pengunjungnya selalu penuh” keluar dari mulut Mbah Mul, melainkan “Museum Wayang Kekayon setiap hari pengunjungnya selalu penuh……” Semoga!!

About Sash

mahasiswa tingkat akhir | reporter | juru ketik | juru potret amatir | pemimpi | penyuka milo hangat, bintang, senja, kunang-kunang View all posts by Sash

One response to “Museum Kekayon, Kehidupan yang Terlupakan

  • monda

    baru tau tentang museum ini,
    padahal baru aja ke Jogja, mestinya bisa mampir ya
    lain kali mungkin ada kesempatan ya

    Sash::
    Museum ini emang jarang yang tau Bunda, jangankan orang luar, yang penduduk asli Jogja aja kebanyakan nggak ngerti. Jogja mah kota museum,, dimana-mana ada museum hehehe… Besok2 kalo mau ke Jogja kabar2 bunda, biar bisa tak ajak blusukan kemana-mana😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: