Tag Archives: dia

Saat Gunung di ‘Museum’kan

Entah kenapa setiap kali saya berencana mengunjungi Museum Gunung Merapi pasti ada sesuatu yang menggagalkan rencana itu :(. Sudah sejak Desember saya ingin berkunjung ke museum baru ini, namun belum pernah terlaksana. Akhirnya sepulang gereja Minggu siang kemarin, tanpa perencanaan sebelumnya saya mengajak dengan paksa sahabat saya untuk menemani acara jalan-jalan ke Museum Gunung Merapi yang lebih akrab disebut MGM.

Kenapa saya ngebet banget pengen ke MGM? Yang pasti saya penasaran dengan koleksinya, pasalnya MGM ini digembar-gemborkan sebagai pusat informasi, penelitian, pendidikan dan wisata tentang kegunungapian di seluruh dunia secara umum dan Gunung Merapi secara khusus. Berhubung jaman SMA saya cinta dengan pelajaran geografi, mangkanya saya ngebet pengen main kesini (gak nyambung.com :mrgreen: ). Selain itu alasan khususnya adalah, setelah 6 hari berkutat dengan pekerjaan kantor dan skripsi yang bikin depresi saya mau meluangkan hari Minggu saya untuk jalan-jalan, dan MGM adalah tujuannya. MGM yang terletak di lereng selatan Merapi ini baru saja diresmikan oleh Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro pada tanggal 1 Oktober 2009 lalu. Berhubung obyek wisata baru, makanya jumlah pengunjungnya belum begitu banyak. Lokasinya yang agak nyempil (di Jalan Boyong) dan tidak terjangkau angkutan umum juga menjadi salah satu faktor kecilnya jumlah kunjungan wisatawan ke tempat ini.

Sekitar pukul 13.00 saya sampai di parkiran MGM. Udara sejuk dan cenderung dingin menyambut kami berdua. Setelah memarkir kendaraan kami berjalan menyusuri areal parkir yang luas. Jika mentari sedang bersinar cerah, puncak Merapi yang kokoh akan terlihat sebagai latar gedung MGM. Namun sayang, sore itu mendung, Merapi terhalang oleh kabut dan awan gelap. Continue reading


Hari Ini Belum Berakhir Sayang!

:: untuk An

Hari ini belum berakhir sayang
Lilin itu masih cukup panjang untuk menyala hingga esok
Bahkan pekat masih terlalu enggan untuk berpisah dengan gelap
Aku termangu
Menatap tirai jendela tua yang usang dimakan waktu
Gelas kaca itu telah berhenti berdenting setahun yang lalu
Esok masih menjadi sebuah tanya
yang terangkum dalam tiap tarikan nafas
bahkan di sela setiap helaan
Bayangmu memanjang di batas ruang, mengabur kemudian menghilang
Hari ini belum berakhir sayang
Dan esok masih akan tetap menjadi sebuah tanya

(mari taklukkan ketakutan itu, karena aku tau kau mampu)


Parangndog: Mission Completed

Apapun yang terjadi saya harus tetap berangkat. Tak peduli hujan badai maupun guruh yang menggelegar. Tujuan saya hanya satu. Menaklukkan tebing Parangndog. Sudah sejak lama saya menginginkan hal ini, dan saya tidak ingin rencana yang telah saya susun sejak lama batal gara-gara hujan. Seorang kawan sempat mengirimkan pesan di YM “Hujan Sash, beneran mau berangkat?” saya hanya tersenyum membaca pesannya dan menjawab dengan satu kata “Yupz”, Ya sudah kalo emang tetep mau berangkat, ati-ati di jalan”. Saya kembali tersenyum, tenang saja bung, saya pasti hati-hati, lagi pula tidak ada yang perlu ditakutkan jika ada pria berbaju hitam di samping saya.

Deretan Tebing Parangndog

Continue reading


Do You Believe in Coincidence?

Sash, do you believe in coincidence?

Jika pertanyaan ini muncul sekitar 4 tahun yang lalu saya pasti akan menjawab “Tentu, saya percaya pada yang namanya kebetulan. Kita bisa saling kenal kan juga gara-gara kebetulan aja toh?” Namun, berhubung saya ditanyanya kemarin dulu belum lama (halah bosone mbulet), saya menjawab dengan pasti “Nope, everything that happens in my life and in this universe has its plans. Tidak ada yang namanya kebetulan karena semua sudah Dia rencanakan sejak semula”

Kenapa saya jawab seperti itu? Ya karena saya tau dan percaya dengan pasti bahwa semua yang terjadi pasti memiliki maksud dan tujuan, tidak hanya kebetulan semata. Untuk belajar mempercayai hal ini saya membutuhkan waktu yang cukup lama. Melalui berbagai proses naik turun dan jatuh bangun, bahkan sampai detik ini. next


Pelangi di Batas Hari

Rabu sore dan hitam sudah menggelayut di sebelah Barat. Jadi pulang nggak ya, pertanyaan itu sekelebat melintas di benak saya. Kalo jadi pulang saya harus menempuh perjalanan selama 150 menit naik motor (itu kalo cepet), nah masalahnya dia naik motornya pelan, jadi kira-kira bisa memakan waktu 180 menit bahkan 200 menit. Itu belum seberapa, di tambah lagi jalanan yang naik turun dan sepi, belum lagi kalo turun hujan. Pufhh, membayangkan saja saya sudah capek.

Tapi bagaimanapun juga saya harus pulang. Besok ibadah Pentakosta, dan saya harus ibadah bareng keluarga di rumah. Kalo saya absen pulang ibu pasti marah, padahal walaupun di Jogja saya juga tetap ke gereja, tapi ibu tak mau tahu alasannya. Jadi, apapun alasannya saya harus pulang. next