Tag Archives: gado-gado

Kotak Pandora

:: dan pada akhirnya pasti terbuka

06.00 am

“Morning doesn’t mean getting up and working again. It rather means God loves you very much to let you life and see another day. Have a blessed day, Gbu!”

Sent to all

Messages delivered

06.13 am

1 message received

“Thanks. God loves you and I also love you, ‘till now. But don’t worry, I always succeed to manage my heart. Take care of yourself and have a blessed day”

06.15 am

1 message received

“Maaf, aku tidak bisa membohongi hatiku.  I still love you dear” Continue reading


Nonton Bola

Setelah melewati masa penantian bertahun-tahun (lebay mode on), akhirnya cita-cita saya buat nonton bola langsung dari stadion terwujud juga. Senin malam (1/2) ada sms dari seorang kawan ngajak nonton bola. Sebenarnya ini bukan sms yang pertama, karena sebelumnya dia sering ngajakin nonton, tapi sayanya yang sok sibuk sehingga tidak pernah bisa. Setelah saya yakin bahwa pertandingannya dilaksanakan pada malam hari (pukul 19.00), saya pun mengiyakan. Kapan lagi bisa nonton bola tanpa harus meninggalkan tempat kerja sebelum jamnya.

Saya sebenarnya bukan penggila bola, bahkan boleh dibilang ‘kaum mugle’ kalo nyangkut urusan bola. Yang saya tahu dari permainan sepakbola hanyalah jumlah pemainnya 11, wasitnya 1, durasi permainannya 2×45 menit, standar internasional ukuran lapangannya 105×68 meter, trus apa lagi ya? Oya saya sedikit tahu kalo Kaka yang cakep itu dulu main di AC Milan dan sekarang pindah ke Real Madrid, saya juga tahu kalo bonek itu nama suporternya Persebaya. Dah, di luar itu saya ndak ngerti. Ngerti juga Cuma info umum dan sepintas lalu saja.

Jadi kenapa kamu semangat banget buat liat bola di stadion Sash?? Continue reading


Testa

Namanya Testa. Bocah lelaki dengan wajah ceria dan belum genap 4 tahun usianya. Sekilas melihatnya, dia tampak biasa saja, tidak berbeda dari bocah-bocah lain seusianya. Namun, ketika melihat dia mulai melangkah saya menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda darinya. Yah, lulutnya tidak bisa menekuk, menjadikan dia sedikit kesulitan saat berjalan.

Saya melihat bocah itu untuk pertama kalinya di awal tahun 2009, saat saya masih bekerja di tempat lama dan sedang berjaga di zona earthquake simulator (simulasi rumah gempa). Dia menghampiri saya sambil tersenyum dan berkata bahwa ingin masuk ke rumah gempa. Saya mengiyakan sambil mempersilahkan Testa naik bersama ibunya. Saat itu saya melihat testa kesulitan menaiki tangga. Saya pun mengulurkan tangan untuk membantunya, namun dia menolak. Sekilas saya melirik ibunya. Wanita muda itu hanya diam di belakang serta menatap anaknya sembari tersenyum. Sedikit keheranan muncul benak. Kenapa ibunya tidak berusaha menolong? Tak berapa lama Testa mampu menaiki tangga itu, meski dia harus merambat. Sesampainya di atas dia pun tertawa girang. Continue reading


American Dream VS Indonesian Dream

I say to you today, my friend, that in spite of the difficulties and frustrations of the moment, I still have a dream. (Martin Luther King Jr.)

Gara-gara nyari novel Sang Pemimpi yang entah keselip dimana semalam saya ngubek-ubek rak buku dan tumpukan kardus yang juga berisi diktat, pape, dan catatan kuliah. Tanpa sengaja saya menemukan beberapa novel dan kumpulan teks yang merupakan bacaan wajib semasa masih aktif kuliah. Iseng saya buka beberapa teks dan novel-novel itu, ada Great Gatsby, Amy Tan’s Two Kinds, Thomas Jefferson’s Declaration of Independence, John Steinback’s Of Mice & Men, Arthur Miller’s Death of Salesman, Theodore Dreiser’s From Sister Carrie, dan masih banyak lagi. Sang Pemimpi pun jadi terlupakan karena saya asyik membongkar-bongkar catatan lawas tersebut.

Tiba-tiba saya menemukan paper untuk matakuliah Amlit di semester VI dulu. Paper itu membahas tentang American Dream dalam Amy Tan’s Two Kind dan Theodore Dreiser’s From Sister Carrie. Ahai tiba-tiba saya jadi teringat tentang American Dream. Jadi apakah American Dream itu? Sebelum saya nulis lebih banyak lagi mari kita duduk sejenak sambil ngobrol dan ngopi-ngopi dulu (halah malah ngelantur). Continue reading


Fenomena Dunia Menyempit

Pernahkah Anda mengalami apa yang disebut dengan Fenomena Dunia Kecil? Dalam chicklit “Cintapuccino” Icha Rahmanti menyebutnya sebagai Fenomena Dunia Menyempit. Saya pernah. Bahkan terhitung sering mengalami hal tersebut. Dunia seakan-akan menjadi begitu kecil dan sempit. Sebelum saya cerita lebih jauh lagi tentang hal yang saya alami, ada baiknya saya cerita dulu tentang “Apakah yang dimaksud dengan Fenomena Dunia Kecil?”

Selama ini ketika kita berbicara mengenai jarak, biasanya yang langsung ada dalam pikiran adalah jarak geografis yang diukur berdasarkan hitungan kilometer. Jarak yang memisahkan tempat atau benda di ruang fisik. Namun, bagi para sosiolog ada sebuah konsep jarak di luar ruang fisik yakni jarak sosial. Jarak sosial ini berada di ruang sosial sehingga tidak dihitung berdasarkan kilometer, namun biasanya berdasar pada pemisah non fisik. Misalnya pekerjaan, pendidikan, kebangsaan, dll. Dalam pergaulan seringkali terjadi orang yang secara fisik berdekatan namun memiliki jarak sosial yang sangat jauh, atau sebaliknya, berada di belahan bumi yang berbeda namun memiliki kedekatan. Continue reading


A Promise is a Promise Mr. Politicans!!

Sekilas membaca judul di atas, mungkin Anda akan mbatin apa hubungan postingan saya kali ini dengan ucapan Joko Anwar di twitternya selepas dia memenuhi janjinya untuk bugil (janji yang aneh) di sebuah minimarket di Jakarta. Bagi Anda yang belum tahu kisah itu ada baiknya saya sedikit bercerita. Jadi di suatu hari yang cerah, saat bunga-bunga bermekaran dan burung-burung berkicau riang… (halah lebay hehehe…).. pokoknya intinya begini, pada saat itu Joko di twitter bilang “If I got my 3000th follower today, I’ll go into a Circle K naked”, nah ternyata dalam waktu satu jam jumlah pengikutnya sudah lebih dari 3.000. Akhirnya diapun melaksanakan apa yang sudah dijanjikannya itu, bugil di Circle K!! Untuk berita lengkapnya bisa baca di sini.

Kali ini saya tidak akan membahas apakah perbuatan dia melanggar norma dan etika, melanggar RUU Purnografi dan Pornoaksi, melanggar ini itu, dan lain sebagainya,, sekali lagi saya katakan saya tidak akan membahas semua perdebatan itu. Yang ingin saya bahas adalah masalah janji yang sudah terucap dan penggenapannya (tsah…bosoku..). Selama ini kita *kita??? Kamu kali Sash* ya,, saya,,,, selama ini saya acapkali mengeluarkan sebuah ucapan yang mengandung janji dan parahnya terkadang ucapan itu berlalu begitu saja, saya lupa untuk menepatinya. Ini contoh kasus yang terjadi: next


Lebaran di Kampungku

Akhirnya Lebaran tahun ini aku bisa pulang. Entah kenapa meski aku tidak merayakannya tetap ada satu gairah tersendiri saat malam Lebaran datang. Berkumpul bersama keluarga besar di rumah bulik, bercengkerama bersama para sepupu, atau sekedar bercakap tentang hal remeh temeh yang menciptakan gelak tawa. Sama seperti keluarga lainnya, Lebaran merupakan ajang berkumpul bagi keluarga. Sebab hanya waktu itu yang kami punya, saat semuanya libur dan bisa berkumpul. Saat Natal Pawiro Fam (kata ganti yang dibuat oleh sepupuku) jelas tidak bisa berkumpul, mereka harus mempersiapkan ibadah dan perayaan di gereja masing-masing.

Namun Lebaran kali ini tak seperti tahun lalu. Jika tahun lalu aku yang absen tidak bisa ikut ngumpul (dengan-alasan-ada-kerja-di-Jogja), tahun ini gantian budheku di Blitar yang tidak bisa datang (dengan-alasan-lagi-renovasi-gereja). Sedangkan putra tertua budheku yang rencananya mau datang dan pamer mengenalkan-pacar-barunya juga membatalkan janji. next