Tag Archives: grenengan

Tentang Rokok

“Mbak, si Zia itu ngrokok ya?” tanya Lena padaku di suatu malam sepulang kami nongkrong.

“Iyupz, kenapa Len?”

“Ya ndak papa sih. Tadi dia habis berbatang-batang lho. Kok dia ndak canggung ya ngrokok di depan orang banyak, gak takut imagenya jadi jelek pa ya?” tanyanya dengan air muka heran. “Kan dia cewek,” lanjutnya.

“Trus kenapa kalo cewek?” tanyaku.

“Uhm,,, ya gimana ya, buatku cewek ngrokok tuh konotasinya negatif je,” ujarnya. Continue reading


Untukmu Para Perempuan

Untuk beberapa kasus, keterlambatan satu hari rasanya masih bisa dimaafkan. Tentu saja ini tidak berlaku bagi keterlambatan jadwal penerbangan maupun keberangkatan kereta api :D. Jadi kali ini (meski terlambat satu hari) saya ingin mengucapkan selamat kepada seluruh perempuan di dunia. Tepat tanggal 8 Maret 2010 kemarin telah diperingati Seratus tahun perayaan perempuan internasional. Jadi kemarin adalah harinya saya, harinya para perempun.

gambar diambil dari sini

Berhubung saya bukan aktivis perempuan, saya tidak ikut aksi-aksi yang diadakan oleh aliansi maupun organisasi massa yang berteriak dijalanan guna menuntut kesetaraan dan keadilan bagi kaum perempuan. Bukannya saya skeptis, tapi saya rasa masih bayak hal-hal di dalam diri saya sendiri yang perlu saya benahi sebelum akhirnya saya menyuarakan suara-suara perempuan lain.

Gimana saya mau berteriak-teriak minta keadilan dan kesetaraan, wong saya saja terkadang jika diperlakukan setara dengan kaum pria saya ndak mau. Mau bukti? Sejak pertengahan tahun lalu saya bekerja di pabrik kata-kata yang pegawainya pria semua. Hanya ada dua wanita cantik sekali di pabrik ini, yakni saya dan Public Relation-nya. Itupun kami tidak menempati kantor yang sama. Jadi di kantor saya, otomatis saya menjadi yang paling cantik :D.

Pabrik kami sering kedatangan tamu dari luarkota hingga luar negeri. Berbagai pertemuan, workshop, dan diskusi juga seringkali diadakan. Nah sebelum acara dimulai biasanya ada kegiatan angkat junjung meja kursi dan barang-barang berat lainnya. Kalo saya mau setara, seharusnya saya juga ikut-ikutan angkut-angkut barang. Tapi saya selalu mengelak. Saya kan perempuan! Jadi saya cuma duduk manis di pojokan, atau mengangkat yang ringan-ringan saja. Ini sudah satu bukti bahwa saya tidak mau setara. Continue reading