Tag Archives: Jogja

JogjaTrip.com Going Online

Setelah penantian sekian lama akhirnya bayi yang digadang-gadang lahir juga. Berawal dari pemikiran untuk menyajikan pesona Provinsi Yogyakarta baik dari segi wisata maupun budaya dalam satu paket, maka kami (saya dan beberapa kawan) berencana ingin membuat sebuah media yang mampu mewadahi gagasan tersebut. Lalu ide tersebut digulirkan dalam forum dan rupanya si bos menyetujui. Berhubung sejak awal kami concern di media online maka media yang akan kami buat pun berupa media online bukan media cetak.

Saya pribadi baru kali ini turut serta secara aktif dalam proses ‘kelahiran jabang bayi’. Kalau untuk majalah, buletin, dan buku, saya memang pernah beberapa kali terlibat dalam proses penggarapannya.  Dulu, saat masih baru-barunya menjadi anggota EKSPRESI saya pernah belajar tentang bagaimana proses pembuatan sebuah media massa. Tapi saat menghadapinya langsung ternyata cukup menguras energi dan tidak semudah yang ada dalam teori. Continue reading


Sekar Ganten dan Keberuntungan

Aroma itu semakin lama semakin tajam dan menusuk, dada saya sesak, saya tidak kuat. Saya memutuskan untuk keluar. Di pelataran saya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, dada saya terasa plong. Ternyata dari dulu belum berubah, saya tak pernah tahan dengan aroma dupa. Perlahan saya menjauh dari tempat penyimpanan keris-keris itu. Ponsel saya bergetar pelan, ada pesan masuk. Aku sudah di Keben, kamu dimana? Cepet ke sini.

Duh, ini kali pertama saya berjalan di sekitar Kraton malam-malam. Saya buta arah. Saya bingung. Saya tidak tahu nama dan letak ruangan-ruangan. Keben? Daerah mana itu? Saya mendekati seorang abdi dalam yang sedang duduk di bawah lampu, dengan ramah beliau menunjukkan arah menuju Keben.

“Mbak dari sini lurus ikuti jalan, setelah itu ketemu pertigaan yang ada jamnya, nanti belok kiri, mentok, itu sudah Keben”

“Nuwun pak”

“Sami-sami, ngantos-antos nggih mbak”

Bergegas saya berjalan mengikuti petunjuk abdi dalem itu. Saya tak ingin membiarkan kawan saya menunggu terlalu lama. Ternyata Keben tidak begitu jauh. Dari kejauhan saya melihat sosok yang saya kenal sedang berbincang dengan penjual bunga. Dia melambaikan tangan, saya semakin mempercepat langkah. Continue reading


(PPP) Pesta Para Perupa

Jogja sedang punya hajatan besar. Semua ikut serta. Tak hanya diperuntukkan bagi yang kaya dan tampan, yang miskin dan jelek pun turut serta. Semua boleh datang, semua boleh bersuka. Siapa ya yang menggelar hajatan ini??? Sri Sultankah? Pak Wali Kotakah? Oh bukan, yang sedang punya gawe adalah para seniman, para perupa. Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan akhirnya pesta besar para seniman ini bisa terlaksana. Pesta kali ini bertajuk Biennale Jogja X – 2009: Jogja Jamming, Gerakan Arsip Seni Rupa Jogja.

Setelah digelar selama 9 kali, maka pada kali yang ke 10 ini, Biennale Jogja alias BJ digelar dengan cara yang berbeda. Untuk lebih mendekatkan kepada masyarakat Jogja dan sekitarnya, BJ kali ini tidak hanya di gelar di TBY, melainkan di 4 tempat sekaligus yakni Bank Indonesia, Jogja National Museum, dan Sangkring Art Space. Gelaran BJ X ini diikuti oleh 130 perupa (diantaranya Heri Dono, Djoko Pekik, Nasirun, Edi Hara, dan masih buanyak lagi) yang akan melakukan pameran indoor. Sedangkan sekitar 150 seniman/kelompok (Kelompok Seringgit, kelompok Hitam Manis, dll)  akan merambah ke ruang publik atau istilah kerennya disebut “Public on the Move”. Continue reading


4 Jam di Titik Nol Kilometer [Part 2]

:: DARI RUSTENBURG MENJADI VREDEBURG ::

IMG_0016

Keluar dari Gedung Agung ‘pasukan’ saya terpisah menjadi dua. 4 orang memutuskan untuk mengisi perut di Oyot Godhong Cafe (Mirota Batik lantai 3) dan berjanji untuk bertemu kembali pada pukul 16.00 WIB di Taman Budaya untuk lihat opening Pekan Seni Anak, sedangkan 4 lainnya (termasuk saya) bingung mau ngapain. Ada berbagai pilihan, tetep duduk di depan Gedung Agung hingga pukul 16.00, makan di salah satu stand yang ikut Festival Kuliner di area Monumen SO 1 Maret, atau masuk ke Gedung Memorabilia Taman Pintar. Berhubung De bilang “Terserah kamu aja Sash, hari ini kan kamu tour leadernya, tapi aku lapar” maka saya memutuskan untuk mengunjungi Festival Kuliner.

Saat menyebrang jalan Ahmad Yani tiba-tiba lain muncul, “Eh gimana kalau main ke Benteng aja dulu?” Merekapun mengangguk tanda setuju. Dari Gedung Agung kami menyeberang ke Benteng Vredeburg, ternyata dari keempat orang tersebut hanya saya dan Eka yang pernah main ke Benteng (yaelah kalian di Jogja udah berapa tahun mas mbak??), itupun main saat ada Festival Kesenian Yogyakarta, jadi kalo isi benteng secara keseluruhan kami belum tau.
next


4 Jam di Titik Nol Kilometer [Part 1]

:: MELIHAT ISTANA DARI DEKAT ::

IMG_0014

Gedung Agung tampak dari atas Benteng Vredeburg (gak bisa dapat foto yang lebih bagus dari ini,, hikz..)

Selama ini tiap kali melewati  Jalan Ahmad Yani saya hanya bisa memandangi bangunan megah yang berdiri di kanan jalan sebelum perempatan Kantor Pos Besar. Sebenarnya saya ingin sekali memasuki bangunan itu dan berkeliling di dalamnya, namun semuanya itu tidak pernah bisa terlaksana. Paling banter yang bisa saya lakukan adalah duduk di depan Benteng Vredeburg sembari menatap gedung tersebut dari balik pagar besi dan berpikir “kapan ya bisa masuk ke gedung itu?”. Bagi Anda yang orang Jogja atau sering ‘berkeliaran’ di Jogja tentu saja tahu dengan pasti gedung apakah itu, yupz Anda benar bangunan tersebut adalah Gedung Agung.

Gedung Agung merupakan salah satu dari 5 istana kepresidenan yang ada di Indonesia.  Pembangunan gedung ini berawal dari keinginan Residen Jogjakarta ke-18, Anthonie Hendrick Smisaaert, tentang  adanya ‘istana’ yang berwibawa yang bisa digunakan sebagai kantor dan tempat tinggal bagi residen-residen Belanda. Gubernur Jenderal Belanda pun memilih Antonie Payen sebagai arsitek pembangunan gedung megah tersebut. Gedung ini mulai dibangun pada tahun 1824 dengan mengambil tempat di depan Benteng Vredeburg yang letaknya tidak jauh dari Kraton Yogyakarta. Hal itu tentu saja bertujuan supaya pihak Belanda bisa “mengawasi” kegiatan di Kraton. next


Lagi-lagi Festival Lagi

IMG_0007

Hijau-hijau menyegarkan

Tampaknya judul postingan saya kali ini tidak terlalu berlebihan, mengingat akhir-akhir ini Kota Jogja seringkali mengadakan festival. Tak percaya dengan ucapan saya? Mari kita buktikan, kita hitung satu persatu festival, karnaval, kirab, parade, pawai, dan apapun itu namanya yang sudah dilaksanakan di kota ini dalam hitungan 2 bulan terakhir. Pawai Budaya HUT Jogja, Jogja Java Carnival, Festival Museum, Parade Andong dalam rangka sumpah pemuda, Festival Makanan Tradisional, dan Festival Malioboro. Itu yang sudah terlaksana, belum lagi rencana Festival Wayang Orang 2009 (12-14 Nove), Ngayogjazz 2009 (20 – 21 Nove), dan festival-festival lainnya.

Dari daftar festival yang sudah saya tulis barusan, hanya Festival Museum dan Festival Makanan Tradisional yang tidak saya tonton. Festival lainnya jelas saya ikut hehe. Mungkin beberapa teman saya akan protes “Lhah Sash katanya kamu nggak suka keramaian” dan inilah jawaban saya “Saya emang nggak suka rame dan bisingnya mall, tapi kalo ramenya festival apa pasar malam saya suka”. Sebagian orang akan menganggap saya aneh karena saya termasuk orang yang anti-mall. next


Semarak Jogja Java Carnival 2009

IMG_0041

Jam di layar HP sudah menunjukkan angka 17.42 WIB. 18 menit lagi teman saya akan segera datang menjemput, padahal saya belum mandi dan berkemas. Dengan bergegas saya menuju kamar mandi, byar-byur sebentar, dan tak sampai 10 menit sudah keluar dengan tubuh sedikit lebih segar. Masih ada sisa waktu 8 menit yang bisa di gunakan untuk memasukkan semua perlengkapan ke dalam tas, notes, pulpen, ID card, syal, kamera, baterai cadangan sekaligus charger, botol minuman, serta beberapa benda tak penting. Aha, dan benar teman saya telah datang untuk menjemput.

Sebenarnya sore ini saya merasa sangat lelah dan mengantuk, namun semuanya tidak mampu menyurutkan semangat untuk menyaksikan karnaval malam ini. Yupz, malam ini adalah malam yang telah saya tunggu sejak beberapa minggu yang lalu. Jogja Java Carnival, puncak acara sekaligus penutupan selebrasi Hari Ulang Tahun Yogyakarta yang ke-253. Di spanduk yang tertera di jalanan karnaval ini akan dimulai pukul 19.30. Namun, berbekal informasi dari seorang kawan bahwa tahun lalu saja sejak pukul 18.00 WIB kawasan Malioboro sudah penuh sesak maka saya tidak mau ambil resiko dengan datang mepet. next


Jogja I Love You Full

Tumpengnya kok bukan nasi kuning ya? hehehehe

Tumpengnya kok bukan nasi kuning ya? hehehehe

Saya bukannya mau ikut-ikutan Mbah Surip, namun hanya menirukan ucapan Pak Wali Herry Zudianto saat memberikan sambutan pada peringatan hari jadi Kota Jogja kemarin (Rabu, 7/10) di Alun-alun Utara. Sesaat setelah memotong tumpeng dan memberikan kepada 5 orang perwakilan tokoh masyarakat, Pak Herry yang mengenakan busana adat Jawa lengkap menyampaikan pidato sambutannya, beliau berujar “Jogja, I love you full” dan semua komponen masyarakat yang tumpah ruah di Alun-alun Utara senyum-senyum, teriak-teriak, dan tak sedikit pula yang bertepuk tangan. Saya sih cuma mesam-mesem sendiri.

Yah tak hanya Pak Herry yang bilang “Jogja I love you full” sayapun dengan lantang berteriak dalam hati (maksutna berteriak dalam hati tu piye ya? hehehe) “Jogja aku mencintaimu dan semakin mencintaimu dari hari kehari” hehehe. next


A Little Step for Big Effect

Awalnya saya merasa biasa saja, hanya sedikit kaget saat sore hari sepulang kantor melihat berita di TV tentang gempa di Sumatra Barat. Malam itu saya sudah tidak memikirkan tentang berita tersebut. Hingga keesokan hari saat saya berangkat kerja ada sms masuk di inbox saya Mbak Padang gempa saya hanya balas Ya aku tau, 7 SR lebih toh? Semalam udah liat di TV. Sesampainya di kantor saya bergegas membuka beberapa portal yang memuat berita tentang gempa.

Ternyata gempa kali ini tidak seringan yang saya bayangkan. Gempa yang berkekuatan 7,6 SR ini meluluhlantakkan kota Padang dan sekitarnya. Atas perintah dari pak bos saya pun bergegas menulis berita bahwa kantor tempat saya bekerja juga mengadakan fundrising untuk korban gempa. Belum selesai saya menulis, datang lagi berita bahwa Jambi diguncang gempa berkekuatan 7.0 SR, dan Mentawai juga. Duh Gusti,,, next


Yogyakarta, Wisata Tanpa Akhir

Gumregah Merapi anyundhul langit
Padhang mbulan ing candhi Prambanan
Keraton pusering buddhi
Candik ayu ing segoro kidul

Itulah sepenggal lirik lagu berjudul “Jogja Cinta Tanpa Akhir” yang dinyanyikan oleh Katon Bagaskara. Sebuah lagu yang menceritakan tentang eksotisme Yogyakarta sehingga membuat orang terbuai dalam nuansa romantisme kota ini. Membicarakan Yogyakarta memang tidak akan pernah ada habisnya. Salah satu daya tarik yang menjadi ciri tersendiri dari kota berjuluk kota perjuangan ini adalah obyek wisata yang beragam. Mulai dari wisata alam, wisata budaya, wisata religius, wisata belanja, hingga wisata pendidikan, semuanya ada di Yogyakarta. Untuk lebih mengenalkan obyek wisata yang ada di Yogyakarta, Dinas Pariwisata dan Budaya (Disbudpar) Provinsi Yogyakarta menggelar acara yang bertajuk Press Tour 2009 pada 11-12 Agustus 2009. next