Category Archives: Keliling Kota

Museum Kekayon, Kehidupan yang Terlupakan

Museum Wayang Kekayon (Sash' pic)

Ini kali kedua saya bertemu dengannya. Saat pertama bertemu dia tidak mengijinkan saya masuk. “Ini sudah jam 2 mbak, sudah tutup. Kalau mau datang besok pagi saja jam 9,” katanya. Dengan sedikit masygul saya mengiyakan dan pulang tanpa mendapatkan hasil apapun. Tapi pertemuan kedua ini dia menyambut saya dengan senyum yang merekah. “Selamat datang, mari silahkan masuk. Mbak datang dari mana ya?” tanyanya. Saya hanya tersenyum simpul. Rupanya ia sudah lupa dengan saya. Setelah saya memberi sedikit penjelasan, lelaki paruh baya itu tersenyum semakin lebar. “Ingatan saya sudah tidak sekuat dulu,” terangnya.

Ia pun mengantarkan saya hingga ke pintu masuk. “Silahkan kalau mau lihat-lihat. Saya tinggal nyapu halaman. Nanti kalau ada yang kurang jelas tanyakan saja,” ujarnya. Saya pun hanya mengangguk. Selepas Ia pergi saya mulai memasuki ruangan demi ruangan yang ada di Museum Wayang Kekayon, tempat di mana wayang-wayang disimpan. Ada begitu banyak wayang di sini, mulai dari wayang purwa, wayang beber, wayang kancil, wayang sadat, wayang golek, hingga wayang suket. Belum  lagi wayang yang tidak sempat terekam dalam memori otak saya. Continue reading

Advertisements

4 Jam di Titik Nol Kilometer [Part 2]

:: DARI RUSTENBURG MENJADI VREDEBURG ::

IMG_0016

Keluar dari Gedung Agung ‘pasukan’ saya terpisah menjadi dua. 4 orang memutuskan untuk mengisi perut di Oyot Godhong Cafe (Mirota Batik lantai 3) dan berjanji untuk bertemu kembali pada pukul 16.00 WIB di Taman Budaya untuk lihat opening Pekan Seni Anak, sedangkan 4 lainnya (termasuk saya) bingung mau ngapain. Ada berbagai pilihan, tetep duduk di depan Gedung Agung hingga pukul 16.00, makan di salah satu stand yang ikut Festival Kuliner di area Monumen SO 1 Maret, atau masuk ke Gedung Memorabilia Taman Pintar. Berhubung De bilang “Terserah kamu aja Sash, hari ini kan kamu tour leadernya, tapi aku lapar” maka saya memutuskan untuk mengunjungi Festival Kuliner.

Saat menyebrang jalan Ahmad Yani tiba-tiba lain muncul, “Eh gimana kalau main ke Benteng aja dulu?” Merekapun mengangguk tanda setuju. Dari Gedung Agung kami menyeberang ke Benteng Vredeburg, ternyata dari keempat orang tersebut hanya saya dan Eka yang pernah main ke Benteng (yaelah kalian di Jogja udah berapa tahun mas mbak??), itupun main saat ada Festival Kesenian Yogyakarta, jadi kalo isi benteng secara keseluruhan kami belum tau.
next


4 Jam di Titik Nol Kilometer [Part 1]

:: MELIHAT ISTANA DARI DEKAT ::

IMG_0014

Gedung Agung tampak dari atas Benteng Vredeburg (gak bisa dapat foto yang lebih bagus dari ini,, hikz..)

Selama ini tiap kali melewati  Jalan Ahmad Yani saya hanya bisa memandangi bangunan megah yang berdiri di kanan jalan sebelum perempatan Kantor Pos Besar. Sebenarnya saya ingin sekali memasuki bangunan itu dan berkeliling di dalamnya, namun semuanya itu tidak pernah bisa terlaksana. Paling banter yang bisa saya lakukan adalah duduk di depan Benteng Vredeburg sembari menatap gedung tersebut dari balik pagar besi dan berpikir “kapan ya bisa masuk ke gedung itu?”. Bagi Anda yang orang Jogja atau sering ‘berkeliaran’ di Jogja tentu saja tahu dengan pasti gedung apakah itu, yupz Anda benar bangunan tersebut adalah Gedung Agung.

Gedung Agung merupakan salah satu dari 5 istana kepresidenan yang ada di Indonesia.  Pembangunan gedung ini berawal dari keinginan Residen Jogjakarta ke-18, Anthonie Hendrick Smisaaert, tentang  adanya ‘istana’ yang berwibawa yang bisa digunakan sebagai kantor dan tempat tinggal bagi residen-residen Belanda. Gubernur Jenderal Belanda pun memilih Antonie Payen sebagai arsitek pembangunan gedung megah tersebut. Gedung ini mulai dibangun pada tahun 1824 dengan mengambil tempat di depan Benteng Vredeburg yang letaknya tidak jauh dari Kraton Yogyakarta. Hal itu tentu saja bertujuan supaya pihak Belanda bisa “mengawasi” kegiatan di Kraton. next