Berbagi Keceriaan & Harapan Lewat 1000BurungKertas

Pernahkah Anda mendengar kisah tentang Seribu Burung Kertas? Jika belum, ijinkan saya menceritakan kembali kisah ini. Di Jepang, ada sebuah mitos tentang seribu burung kertas, mitos ini mengatakan bahwa barangsiapa yang bisa merangkai seribu burung kertas, maka apapun yang menjadi doa dan harapannya akan terwujud. Mitos ini diyakini oleh banyak orang dan salah satunya adalah seorang gadis kecil penderita leukemia akibat radiasi bom atom yang jatuh di Hiroshima pada 6 Agustus 2945 bernama Sadako Sasaki. Ketika mendengar mitos tersebut, Sadako mulai melipat burung-burung kertas dengan harapan penyakitnya sembuh. Tapi seiring berjalannya waktu, Sadako melihat kawan-kawan sedesanya yang menderita penyakit leukemia meninggal satu demi satu. Harapannya untuk sembuh kemudian menghilang. Meski begitu dia tetap melipat burung-burung kertas dengan harapan yang baru, yakni agar tercipta perdamaian dunia supaya tidak ada lagi anak-anak yang menderita sepertinya.  Belum selesai seribu burung dibuat, dia meninggal. Akhirnya kawan-kawan dan keluarganya membuat burung kertas hingga jumlah 1000 burung itu terpenuhi dan meletakkannya di makam Sadako.

Berawal dari cerita tersebut dan keinginan untuk berbagi dengan sesama, gerakan 1000 burung kertas dimulai. Target pertama kegiatan ini adalah Studio Biru, sebuah sanggar belajar dan bermain yang terletak di Padukuhan Sengir, Bokoharjo, Prambanan, Sleman, DIY.  Pada gempa yang melanda DIY di tahun 2006, daerah yang terletak di perbukitan dan akses yang lumayan sulit ini merupakan salah satu daerah dengan kondisi terparah. Dengan segala keterbatasan, Studio Biru hadir untuk memberikan trauma healing bagi anak-anak, sekaligus mengembalikan keceriaan mereka yang sempat menghilang. Studio biru menjadi tempat berekspresi dan bereksplorasi bagi anak-anak Sengir, serta menjadi tempat untuk belajar hal-hal baru yang tidak mereka peroleh dari bangku sekolah. Di tempat ini anak-anak bisa menulis sesukanya, menggambar semaunya, belajar apapun yang mereka suka, serta bermain sepuasnya.

Namun saat ini kondisi fisik Studio Biru sudah tidak layak huni. Bangunan berdinding bambu dan berlantai tanah ini sewaktu-waktu bisa roboh saat hujan lebat turun dan angin kencang bertiup. Atap yang bocor disana-sini menjadikan anak-anak merasa tidak nyaman saat berada di Studio Biru. Tempat  yang menjadi lokasi sanggar juga merupakan rumah milik warga yang suatu saat akan diambil oleh pemiliknya. Dari hal tersebut maka komunitas Canting dengan gerakan 1000 burung kertas berusaha untuk membangun Studio Biru, membangun perpustakaan, serta memberikan pendampingan rutin tiap Minggu bagi anak-anak.

1000 burung kertas sendiri adalah gerakan yang kami lakukan dalam usaha mengumpulkan dana untuk membangun Studio Biru serta mengumpulkan buku untuk membuat perpustakaan. Bagi siapa saja yang tertarik untuk bergabung dalam gerakan ini cukup membeli kaos yang kami buat, mengirimkan buku bacaan (baik bekas maupaun baru), atau mengirimkan donasi (tidak dibatasi nominal). Satu burung kertas akan dibuat bagi setiap pengiriman buku & donasi maupaun pembelian kaos. Pada masing-masing sayap burung itu akan dituliskan doa dan harapan maupaun kata-kata penyemangat bagi anak-anak Indonesia. Akan lebih baik jika pengirim sendiri yang membuat burung kertas dan menuliskan kata-kata tersebut. Namun jika tidak memungkinkan, maka Canting akan membuatkan burung kertas tersebut. Nantinya 1000 burung kertas ini akan dipasang  di bangunan Studio Biru yang baru.

Saat ini sudah lebih dari 150-an burung kertas terkumpul yang berasal dari berbagai kota di Pulau Jawa dan Kalimantan, baik berasal dari perorangan maupun komunitas (Arsenal Indonesian Supporter, Good Readers Indonesia, dan komunitas Air Soft Gun Jogja). Burung-burung kertas tersebut terwujud dalam puluhan judul buku, mainan edukatif untuk anak-anak, media pembelajaran, serta dana kurang lebih mencapai Rp 3.000.000,00. Masih banyak lagi dana yang dibutuhkan untuk membangun studio biru, begitupula dengan buku koleksi yang diperlukan. Kami berharap rekan-rekan semua bersedia berbagai keceriaan dan harapan bersama anak-anak dengan mengirimkan satu burung kertas. Kami percaya doa-doa yang ada di kepak sayap tersebut tak akan sia-sia. Semakin banyak sayap terkepak, semakin banyak harapan dan keceriaan tertebar.

Sehubungan dengan program #klikhati, kami juga bermaksud untuk memasukkan gerakan 1000 burung kertas ke dalam program tersebut. Jika nantinya gerakan 1000 burung kertas ini lolos, maka akan tercipta sebuah gerakan berantai. Setelah Studio Biru terwujud, dana sisa pembangunan Studio Biru dapat digunakan untuk program serupa di tempat lain dan pengumpulan 1000 burung tahap kedua dimulai kembali. Begitulah seterusnya, sehingga nantinya akan ada banyak anak Indonesia yang mendapatkan ruang  dan tempat untuk mengekspresikan dan mengeksplorasi potensi yang mereka miliki. Hingga nanti akan tercipta generasi yang mandiri, kritis, aktif, dan kreatif menuju Indonesia yang lebih baik.

Bagi rekan-rekan yang tertarik untuk bergabung dengan gerakan ini dapat follow twitter 1000 burung kertas di @burung_kertas atau mengirimkan email ke info_1000burung@yahoo.co.id

Kami akan sangat berterimakasih jika rekan-rekan semua bersedia menyebarkan gagasan sederhana ini kepada rekan-rekan yang lain, baik melalui facebook, twitter, blog, email, maupun jejaring sosial lainya. Sehingga nantinya akan banyak komunitas yang bergabung dengan gerakan ini. Kami percaya, sesuatu yang besar pastilah berasal dari hal-hal kecil. Semoga nantinya langkah kecil ini dapat memberikan kontribusi maupun dampak besar bagi kehidupan anak-anak Indonesia.

Note:

Bagi yang ingin melihat sekilas tentang Studio Biru dan kenapa kita pilih mereka sebagai target pertama silahkan baca disini, sedangkan yang ini adalah salah satu catatan saat Canting berkunjung kesana, dan ini adalah catatan khusus yang membuat kami semakin merasa perlu berbagi dengan kawan-kawan kecil di Studio Biru.

 


Mau Dibawa Kemana Kebencian Ini?

Pernahkah Anda merasa membenci sesuatu? Mungkin bukan benci, tapi tidak suka, eneg, dan sebel sekali dengan sesuatu. Namun pada akhirnya tanpa Anda sadari, Anda malah akan mengetahui segala sesuatu yang kalian benci itu dengan sangat baik. Anda akan mengikuti perkembangan dan gosip-gosip maupun berita terbaru tentang sesuatu yang kalian benci, dan pada akhirnya hal-hal yang Anda benci menjadi topik perbincangan sehari-hari dan begitu dekat dengan kehidupan Anda. Kalo pertanyaan ini diajukan ke saya maka jawabannya pernah, dan terbilang lumayan sering.

Ini bukan tentang saya membenci seseorang secara personal, tapi lebih merujuk ke masalah lagu-lagu anak muda masa kini yang musiknya sering tidak jelas itu. Pada dasarnya saya bukan orang yang tau banyak tentang musik, meski sejak masih dalam kandungan musik sudah menjadi bagian dari hidup saya dan saya dibesarkan dalam keluarga yang menjadikan musik sebagai salah satu hal penting dalam kehidupan mereka. Bagi saya tak peduli apapun aliran musiknya asal enak di dengar ayuk sajalah. Saya mendengarkan pop, country, dangdut, keroncong, campursari, jazz, melayu, slow rock, dan apapun itulah, yang bisa bikin hati tenang maupun yg bisa bikin kepala dan kaki bergerak.

Jadi kalau bukan aliran musik yang menjadi masalah lalu apa? Tentu saja lirik dan gaya penyanyinya yang aneh-aneh itu. Jujur saya benci dengan lagu-lagu sekarang yang menye-menye, yang terlalu cengeng, yang liriknya diulang-ulang, yang isinya cuma cinta-cintaan gak jelas dan tidak mendidik sama sekali. Subyektif saya, lirik itu adalah kekuatan sebuah lagu. Percuma aransemen bagus, musik bagus, kalo liriknya ecek-ecek.

Karena itu saya lebih suka lagu-lagu tahun jebot dibanding jaman sekarang. Lagu jaman dulu itu kaya diksi dan puitis. Tengok saja lagunya Kla atau Padi, lirik mereka kuat dan diksinya tingkat tinggi. Bukan kaya lagu anak sekarang yang “bertahan satu ce I en te a”. Saya juga suka dengan musikalisasi puisi, apalagi kalo punya Eyang Sapardi, juara tuh. Mana ada yang bisa nyaingi “Aku Ingin” atau “Sajak kecil Tentang Cinta”.

Sekarang kembali menyoal masalah benci-membenci tadi. Entah kenapa, saat saya benci degan lagu-lagu yang enggak-banget itu, secara perlahan saya malah jadi hafal dengan lagu-lagu tersebut. Sebagai contoh saya benci dengan lagu D’Bagindas, tapi entah kenapa saya malah jadi tau lagu “bertahan satu ce I en te a” dan saat pagi di kamar mandi tanpa sadar mendendangkan lagu tersebut. Begitupula dengan boyband masa kini yang personilnya tujuh cowok (yang katanya) unyu-unyu itu padahal masih cakepan tukang parkir di Swalayan Progo. Gara-gara tanpa sengaja melihat status nona Gitaditya di FBnya, saya jadi tau ada boyband yang namanya SM*SH dengan lagunya yunomisoweeeeeeeeeelll itu.

Dari rasa penasaran akhirnya berbuntut pencarian di google dan saya menemukannya. Lagu itupun saya perdengarkan diseantero ruangan tempat saya bekerja, semua terbahak dan mencacinya, tapi entah kenapa lagi-lagi saya jadi hafal reff lagu tersebut (tolooooooooong). Dan dengan alasan sebagai ‘nyek-nyekan’ saya kadang mendendangkannya di depan rekan-rekan saya.

Hal tersebut selalu berulang. Dari yang awalnya benci akhirnya saya menjadi tau banyak tentang itu. Saya jadi bingung mau dibawa kemana kebencian ini?? (ini juga mlesetin lirik lagu sebuah band). Akhirnya sekarang saya memilih untuk tidak mudah tergoda. Demi mengamankan (tsaahhh bahasanya) telinga dan otak saya dari efek buruk lagu-lagu tersebut akhirnya saya memilih mendengarkan lagunya Sudjiwo Tedjo, Sapardi, Sinten Remen, Frau, Nugi, Kla, Padi, atau cukup instrumen saja. Bagaimana dengan Anda semua? Apakah juga memiliki pengalaman yang sama?


Hidupmu Adalah Pilihan

Untuk seseorang yang sudah saya anggap sebagai kakak saya, lagu ini sepertinya bisa menjadi rujukan saat kebimbangan menghampiri. Semoga kau tidak salah memilih, dan tidak menyesali tiap pilihan yang telah dan akan kau buat. Ini hidupmu. Pilihan ada ditanganmu. Karena ketika kau menginginkan sesuatu dengan sepenuh hatimu, maka seluruh jagat raya akan bersatu padu membantu mewujudkannya (Paulo Coelho)

Oya ini saya pinjaman kalimat khas senior saja di kampus dulu, zenrs, “Hidup yang tak dipertaruhkan tak akan pernah dimenangkan”

Dan ini lagunya mas Katon Bagaskara itu, semoga bisa menginspirasi dan membantu menentukan pilihan.
Beribu warna, kau mampu lukiskan
diatas kanvas, bingkai kehidupan
tak usah meragu, saat kau melangkah
ikuti hatimu, menentukan arah
segala yang kau inginkan, mampu engkau dapatkan, hidupmu adalah pilihan

kadang kau rasa, seolah dunia
menampik rencana, menggoyahkan jiwa
hingga kau mengira, itu takdir belaka
percaya yang kau mimpikan, mampu engkau wujudkan, hidupmu adalah pilihan

andai musti aku pindahkan, satu gunung yang tinggi, dengan iman ‘ku percaya terjadi

hidup mu adalah, segala yang kau inginkan, mampu engkau dapatkan
hidupmu adalah, percaya yang kau impikan, mampu engkau wujudkan, hidupmu adalah pilihan
hidupmu pilihan (3x)

Btw ini lagu tidak hanya untukmu, tapi juga sangat berarti buatku dink hehehe. SemangArt kakak!!


Curhat Syalala

Kemarin saya ngedrop. Pukul 6 pagi mata tak bisa dibuka, badan rasanya pegal-pegal, kepala pusing, dan perut saya seperti disayat-sayat. Saya pejamkan mata lagi, saya pikir jam tidur kurang setelah semalam begadang bersama kawan-kawan Canting di TBY dan dilanjut ke Pakualaman.  Tapi hingga pukul 7 lebih sakit itu tak kunjung reda malah semakin menjadi. Akhirnya saya sms orang kantor kalo saya pamit. Badan saya tidak bisa diajak kompromi.

Minggu-minggu terakhir ini saya memang sedang merasa amat sangat capek. Baik fisik, hati, maupun pikiran. Gesekan-gesekan yang terjadi dengan orang-orang tertentu benar-benar menguras energi positif saya. Saya capek hati. Pekerjaan juga menumpuk. Mulai dari ‘utang’ artikel, terjemahan, proyek stubi, dan seminggu terakhir saya jalan-jalan keluar kantor liputan sana-sini dari pagi hingga malam. Hari minggu yang seharusnya untuk istirahat pun saya gunakan untuk jagong manten ke Prambanan dan Ketep, pulang kos sudah malam dan tidak ada waktu buat istirahat, setelah itu lanjut nggarap terjemahan sampai dini hari. Dan satu hal yang selalu mengganjal, si tujuh huruf itu fiuhhhhhh…

Semuanya terakumulasi, akhirnya saya tepar. Tapi untunglah tidak terlalu parah. Siang harinya saya sudah membaik, meski tetep kalo liat nasi eneg banget. Sore harinya saya udah bisa jenguk ayah teman saya di Rumah Sakit. Dan hari ini saya udah bisa masuk kantor lagi, walo dengan tubuh yang masih lemes banget. Seharusnya saya datang ke pemakaman ayah temen saya, tapi gak bisa. Hujan. Dan saya gak bisa kecapekan dulu.

Saya gak tau ini mau nulis apa, pokoknya cuma pengen curhat aja curhat gak jelas. Saya sedang capek, sedang bosan, sedang gak gitu fit, dan sedang bingung mikir si tujuh huruf itu. Huaaaaaaaaaaaaa…. pengen melangkah lagi tapi bingung mau mulai darimana. Sudah terlalu lama meninggalkannya dan asyik berkubang dalam lembah kegelapan pekerjaan yang menyenangkan.

Saat ini saya sedang mengalami ketakutan. Banyak pikiran buruk melintas. Seandainya gini, seandainya gitu dan masih banyak seandainya. Huaaaaaaa… Saya pengen lulus tahun ini. Tapi ternyata wisuda dimajuin jadi November. Saya gak mungkin bisa ikut. Paling cepet Februari. Dan keluarga saya berharap saya bisa wisuda tahun ini. Saya nggak ngerti harus bilang apa ke mereka. Ibu udah ribut mau beli’in kebaya buat saya. Jadi merasa bersalah hikz. Meski secara finansial saya sudha lepas dari merek tetep saja kalo hal-hal kaya gini mereka masih ngurusin. Ehtahlah. Saya bingung. Saya takut menghadapi November. Saya yang akan mengganjil menjadi duatiga, saya yang sudah mandiri dan bekerja, tapi saya juga belum wisuda….

“Nduk ibu ra peduli kowe wis kerjo lan wis iso nduwe kasil, sek nggawe ibu bangga nek kowe wis dadi sarjana”

dan perkataan itu selalu terngiang di telingaku😦

Sudut Selatan Jogja, 14 Oktober 2010


Sindrom Minggu Siang

Saya pikir saya sudah sembuh. Saat menyadari bahwa saya tak lagi membaca semua berita yang dia tulis guna mengetahui seharian kemarin dia berada dimana dan kira-kira bersama siapa saja.

Saya pikir saya sudah sembuh. Saat saya menyadari bahwa saya tak lagi membuka profil facebooknya tiap hari guna melihat foto terbaru dirinya yang di tag oleh rekan-rekan kerjanya.

Saya pikir saya sudah sembuh. Saat saya menyadari bahwa saya sudah tidak lagi terganggu dan merindukannya saat mendengarkan lagu-lagu yang menjadi kesukaannya.

Saya pikir saya sudah sembuh. Saat saya tidak lagi gelisah di tiap malam menunggu sms yang tak kunjung datang darinya, meski hanya dua potong kata “sudah tidur?”.

Saya pikir saya sudah sembuh. Saat saya tak lagi kecewa dengan jawaban ‘tidak’ darinya, menggantikan semua jawaban ‘iya’ seperti tahun-tahun  yang lalu tiap kali saya ingin bertemu dengannya untuk membicarakan hal-hal penting atau sekadar berbagi kisah dan gelisah ditemani coklat hangat dan cahaya kunang-kunang.

Saya pikir saya sudah sembuh. Saat saya dengan berat hati bisa menerima sikapnya yang jauh berubah tanpa saya berhak tau kenapa. Tak ada lagi pesan pendek di dini hari. Tidak ada lagi senyuman yang tersungging. Tidak ada lagi kekhawatiran yang berlebihan. Tidak ada lagi lagu untuk saya. Tidak ada lagi tepukan kecil dikepala. Tidak ada lagi cerita tentang hari-harinya. Tidak ada lagi pokok-pokok doa yang dibagikan.

Saya pikir saya sudah sembuh. Saat saya menyadari bahwa sedikit demi sedikit saya sudah bisa menerima kenyataan jika dia memang seharusnya tidak perlu ada dalam kehidupan saya. Saya harus melupakannya. Sebelum semua saling menyakiti dan tersakiti.

Setelah sekian lama mencoba bertarung melawan hati dan perasaan, mencoba membangun pertahanan sekuat mungkin, mencoba membentengi diri dengan menutup semua jalur yang akan menghubungkan saya padanya, tiba-tiba saya melihat bayangannya berkelebat melalui celah-celah sempit yang seharusnya tidak terlihat oleh saya.

Saya pikir saya sudah sembuh. Namun kali ini nampaknya saya salah. Masih ada sesuatu yang berdesir lirih disini saat saya melihatnya. Masih ada bekas luka yang kembali perih. Masih ada gulungan kisah yang kembali berputar seperti layar tancap di benak. Masih ada sedih yang tertahan di dasar hati. Masih ada butiran yang menggenang di pelupuk mata. Masih ada secuil harapan tentang kemungkinan semua kembali lagi seperti semula.

Ternyata saya tidak sekuat yang saya kira. Ternyata saya belum sembuh. Ternyata saya belum mampu melupakannya.


Kenangan

Entah kenapa kenangan selalu hadir satu paket dengan kesedihan. Ia muncul tanpa aba-aba, menyita semangat dan menawan bahagia, kemudian menguap lenyap begitu saja menyisakan kekosongan yang mendalam. Ia hadir melalui seulas senyum. Menyentak lewat bunyi lonceng gereja dan heningnya saat berdoa. Menerabas masuk melalui petikan gitar dan alunan lagu, bahkan kilatan blitz kamera dan deskripsi novel yang sedang dibaca. Ia bersemayam dimana-mana.

Kenangan itu laksana badai. Menghancurkan setiap sendi pertahanan dan dinding tebal yang telah saya bangun. Sebegitu mudahnya. Pernah sekali waktu saya menang dalam pertempuran itu, menepis rasa yang seharusnya sudah tidak boleh lagi bersemayam. Namun dibanding kemenangan, saya lebih sering terpekur meratapi kekalahan. Dan pasukan bengal itu menertawakan saya. Saya benci saat dia menjadi bagian dari kenangan itu. Memasuki ruang pikiran dan hati saya seenaknya. Tanpa permisi. Dan kemudian melenggang begitu saja.

Saat-saat seperti ini  selalu membuat saya menyesali pertemuan yang pernah tercipta. Menyalahkan waktu yang mempertemukan pada saat yang tidak tepat. Ah sudahlah. Tak usah lagi diingat. Lupakan saja. Yah lupakan. Meski saya tak kan pernah tahu berapa lama waktu yang diperlukan untuk melupakan dan memulihkan hati.

:: sedang kacau balau galau tingkat tinggi ::


Ini Tentang Hati!!

Aku ingin tinggal di negeri tanpa gravitasi

Hingga tak ada lagi istilah jatuh

dan pada akhirnya akan membuat patah

yang ada hanya melayang dan melambung tinggi

seperti 1000 orizuru ini

Jogja, Agustus 2010